Jakarta, Aktual.co — Jakarta, Aktual.co —  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung selama Januari 2015 surplus sebesar 90 juta dolar Amerika Serikat (AS).

“Kondisi ini terjadi pada awal tahun 2015 dan diharapkan akan terus mengalami surplus pada bulan-bulan berikutnya,” kata Kepala BPS Provinsi Lampung, Adhi Wiriana di Bandarlampung, Selasa (17/2).

Ia mengatakan neraca perdagangan Lampung pada Januari 2015 dengan beberapa negara di kawasan ASEAN mengalami defisit seperti Thailand mencapai 9,4 juta dolar AS dan Malaysia 9,1 juta dolar AS. Neraca perdagangan yang mengalami suprlus dengan negara di kawasan ASEAN adalah Singapura sebesar 7,1 juta dolar AS. Sementara dengan negara-negara di kawasan Uni Eropa surplus mencapai 64,1 juta dolar. Kemudian Amerika Serikat surplus 15,8 juta dolar AS dan Tiongkok 18,8 juta dolar AS. Sementara dengan emapt negara lainnya mengalami defisit.

Adhi menyebutkan pada periode Januari 2015, neraca perdagangan mengalami surplus 90 juta dolar. Hal itu menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung terus membaik dibandingkan bulan Juli 2014 dan sebelumnya yang selalu defisit. Sementara nilai total ekspor Provinsi Lampung pada Januari 2015 mencapai 275,6 juta dolar AS, atau mengalami penurunan 20,77 persen dibandingkan ekspor pada Desember 2014.

BPS Lampung itu mencatat nilai ekspor Januari 2015 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014 juga mengalami penurunan sebesar 4,5 juta dolar AS atau 1,62 persen. Lima golongan barang utama ekspor Lampung pada Januari 2015, yakni golongan lemak dan minyak hewani/nabati; kopi, teh, rempah-rempah; batu bara; ikan dan udang serta olahahan dari buah-buahan/sayuran.

Penurunan ekspor di Januari 2015 terhadap Desember 2014, lanjutnya, terjadi di tiga golongan barang utama, yakni golongan lemak dan hewan/nabati turun 32,62 persen atau 52,4 juta dolar AS; kopi, teh, rempah-rempah turun 20,27 persen (11,5 juta dolar AS), batu bara 18,95 persen (5,5 juta dolar AS) serta ikan dan udang turun 16,24 persen (3,4 juta dolar AS).

“Sedangkan olahan dari buah-buahan/sayuran mengalami peningkatan 7,22 persen atau 1,2 juta dolar AS,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh: