Jakarta, Aktual.co — Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Jaringan Advokasi Tambang dan 350.org menyatakan korupsi mafia energi yang terus merajalela di Indonesia bakal mengakibatkan kerusakan masif dalam lingkungan hidup di berbagai daerah di Tanah Air.

Siaran pers bersama Jatam-350.org yang diterima di Jakarta, Senin (16/9), menyebutkan, ladang korupsi bagi mafia energi yang mengorbankan keselamatan rakyat dan perusakan yang masif.

LSM tersebut mencontohkan, masyarakat Sidoarjo selama sembilan tahun terakhir juga harus hidup dalam kondisi yang tidak sehat dan tidak aman akibat semburan lumpur Lapindo. Kondisi yang sama juga terjadi di Sulawesi Tengah, ketika petani digusur dan diintimdasi demi eksploitasi blok migas. Sembilan anak yang tewas tenggelam di lubang tambang batubara di Samarinda dalam empat tahun terakhir, juga dinilai merupakan salah satu potret buruk industri energi fosil.

Data dari Jatam menyebutkan bahwa saat ini industri migas dan pertambangan sudah mengkapling 44 persen wilayah indonesia. Di Indonesia energi fosil memang masih primadona, bahkan pemerintah juga ingin investor membangun pembangkit listrik 35.000 MW yang 60 persen disuplai dari batubara.

Kedua LSM itu menyatakan hal itu sangat ironis karena batubara saat ini sudah mulai ditinggalkan di banyak Negara sebagai sumber energi, seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Norwegia.

Sedangkan data dari 350.org menyebutkan, tidak hanya negara saja, tetapi ratusan institusi pendidikan, keagamaan, yayasan hingga pemerintahan telah menyatakan komitmennya untuk menarik investasinya dari energi fosil.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka