Jakarta, Aktual.co — Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatera Selatan meminta pemerintah mewaspadai potensi pemutusan hubungan kerja, mengingat perekonomian tidak kunjung membaik pasca penurunan harga komoditas ekspor yang berada di titik terendah sejak pertengahan 2014.

Pasalnya Sumsel memiliki karateristik berbeda dengan daerah lain di Indonesia karena, sangat bergantung dengan komoditas karet, sawit, dan mineral batu bara.

“Sumsel saat ini sedang dicoba karena dampaknya tidak hanya bagi mayarakat perkebunan, tapi sudah melebar ke bisnis lanjutannya seperti penjualan kendaraan, properti hingga industri Usaha Kecil dan Menengah,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPD Apindo) Sumatera Selatan Sumarjono Saragih di Palembang, Senin (16/2).

Ia mengemukakan, efisiensi saat ini menjadi pilihan utama pengusaha, salah satunya pengurangan produksi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Saat ini banyak showroom mobil yang tutup dan penjualnya pulang ke Jakarta, artinya pasti ada PHK di sektor tersebut,” ujar dia.

Ia melanjutkan, pemerintah sepatutnya mewaspadai keadaan ini karena akan berdampak kepada kehidupan sosial masyarakat, seperti peningkatan jumlah kasus kriminal konvensional.

“Itulah mengapa Apindo saat penetapan upah alot dengan pemerintah, karena telah memprediksi keadaan ekonomi pasti belum membaik hingga akhir tahun 2015. Siapa sangka harga minyak dunia saat ini bisa menyentuh 50 dolar per barrel, sementara komoditas ekspor biasanya selalu di bawah harga minyak,” kata dia.

Lantaran itu, ia pesimis jika Sumsel mampu selaras dengan target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah pusat 5,7 persen.

Sementara, kata dia, penjualan buah sawit dalam bentuk tandan buah segar (TBS) tidak ada kemungkinaan bakal lebih baik, sementara di sisi lain karet mulai ada pesaing baru yakni dari Thailand, Vietnam dan Myanmar, demikian pula dengan batu bara yang permintaannya semakin menurun.

“Sumsel saat ini memang benar-benar diuji,” kata dia.

Ia mengamati, masih ada celah bagi mereka yang mau berusaha di sektor industri kreatif dan pariwisata.

Untuk sektor perkebunan sangat sulit selagi Sumsel belum memiliki industri hilirisasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka