Jakarta, Aktual.co — Ribuan perempuan melakukan aksi protes di sepanjang jalan kota besar di Turki pada Sabtu (14/2) kemarin. Aksi tersebut menuntut pemerintah untuk menindak tegas setiap pelaku pemerkosaan, penganiayaan dan pembunuhan terhadap kaum hawa di Turki.

Aksi yang dilakukan oleh wanita dari berbagai kategori umur serta lapisan masyarakat itu terjadi di beberapa kota antara lain di Ankara, Istanbul dan Mersin. Dalam aksi tersebut, para demonstran membentangkan spanduk bertuliskan, “Cukup, kita akan menghentikan pembunuhan perempuan”.

Protes tersebut mencuat setelah penemuan mayat seorang wanita di dasar sungai di kota Mersin, Jumat (13/2) waktu setempat. Mayatnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka bakar di tubuh, luka tusukan serta dianiaya menggunakan benda tumpul.

Wanita yang diketahui bernama Ozgecan Aslan (20), berprofesi sebagai mahasiswa psikologi diduga diculik saat perjalanan pulang pada Rabu (11/2). Dia diduga sempat diperkosa terlebih dahulu sebelum akhirnya dibunuh dan dibuang ke sungai.

Hal tersebut membuat warga Tukri, khususnya wanita geram dan takut. Mereka menuntut pemerintahan Turki untuk memberikan hukuman seberat-berat terhadap para pelaku yang ditengarai berjumlah tiga orang yakni seorang supir bus, ayahnya dan seorang temannya.

Seorang massa aksi, Bulay Dogan mengatakan bahwa peristiwa tersebut membuatnya takut akan keselamatan jiwanya.

“Aku takut, karena hal yang sama bisa saja terjadi pada saya atau teman-teman saya. Bagaimana bisa mereka (pelaku) begitu nekat untuk melakukan hal seperti itu,” ujar Bulay, dilansir dari BBC, Senin (16/2).

Tanggapan berbeda dipaparkan oleh salah satu Akademisi pusat studi kesetaraan gender di Turki, Zeynep.

“Ini adalah hasil dari suasana Islam radikal yang dibuat pemerintah. Orang-orang mengatakan perempuan harus konservatif. Mereka berpikir jika perempuan konservatif, layak mendapatkan kekerasan seperti ini,” tegas Zeynep.

Apa yang ungkapkan Zeynep bukan tanpa alasan. Sejak pemerintahan dari Partai Justice and Development (AKP) berkuasa dalam satu dekade terakhir, kekerasan terhadap perempuan di Turki meningkat tajam. Berdasarkan laporan, pada 2014, hampir 300 perempuan tewas karena dibunuh. Dimana 100 orang diantaranya diperkosa dan dibunuh.

Salah satu lembaga anti kekerasan terhadap perempuan di Turki, Women for Peace Initiative, menegaskan bahwa pemerintah harus membuat sebuah Undang-Undang yang melindungi wanita dari bentuk kekerasan, tentunya dengan hukuman yang berat.

“Pemerintah harus bisa melindungi wanita Tukri dari penganiayaan, pemerkosaan dan pembunuhan. Kami berharap parlemen bisa menghentikan kekerasan ini,” tegas salah satu aktifis, Sevda Bayramoglu.

Artikel ini ditulis oleh: