Jakarta, aktual.com – Pertemuan santai antara mas Agus Harimurti Yudhoyono, yang juga merupakan Ketua Umum Partai Demokrat, dengan mba Puan Maharani, yang juga merupakan ketua DPP PDIP, pada hari Minggu, (18/6) telah menarik perhatian dan perbincangan publik Indonesia, terlebih publik politik. Berbagai macam spekulasi pun muncul, ditengah dinamika koalisi dan pencarian pasangan capres dan cawapres yang sedang berlangsung.
Namun yang tak kalah penting adalah fakta bahwa dua partai yang dipimpin masing-masing hampir 20 tahun menempuh jalan berbeda dalam politik, namun keduanya telah menunjukan kepada masyarakat bahwa boleh berbeda, tp jalinan silaturahim tetap terjaga. mas AHY menyebutnya sebuah oase ditengah situasi polarisasi politik yang seolah dipelihara.
Mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Rahman Toha Budiarto, atau biasa disapa Amang mengapresiasi positif hal ini.
Amang melihat bahwa pertemuan antara mas AHY dan mba Puan sudah selayaknya lebih banyak dilakukan, bahkan perlu dicontoh oleh tokoh tokoh politik lain. Hal ini akan makin memperkuat jiwa kenegarawanan kedua tokoh tersebut.
“Pertemuan dua tokoh parpol dimana kedua parpol itu sudah hampir 20 tahun berbeda posisi politik tentunya harus kita sambut positif. Demi bangsa dan negara harusnya para elit2 politik harus lebih sering bertemu dan mebicarakan problem bangsa, agar diperoleh solusi dan konsensus perbaikan,” ucapnya.
Di sisi lain, Amang menilai positif atas mas AHY karena memenuhi undangan ngopi darat dari mba Puan.
” Kesanggupan mas AHY bertemu mba Puan patut diapresiasi positif. Hal ini menunjukan bahwa jiwa dan pikiran terbuka dimiliki seorang AHY, siap bertemu dan berbicara dg siapapun. Bahkan dengan tokoh politik di luar koalisi parpol yang sudah dibangun mas AHY yaitu koalisi perubahan dan persatuan (KPP). Dan saya rasa mas AHY bisa berinisiatif utk bertemu dg tokoh/ketua umum parpol2 lain di luar koalisi perubahan, baik utk mengajak bergabung ke koalisinya atau komunikasi politik utk menyatukan ide dan gagasan perubahan. Dan pada situasi inilah mas AHY sangat layak menjadi calon wakil presiden (cawapres) untuk pak Anies Baswedan. Pak Anies perlu pasangan cawapres yang tidak hanya punya basis massa, tapi juga sosok yang energik, muda, inisiatif dan terbuka. Itulah sosok mas AHY”, tegas Amang.
Lebih jauh Amang menjelaskan bahwa tugas menjelaskan dan menjalankan langkah koalisi perubahan tidak hanya jadi tugas pak Anies Baswedan sj, atau pak Surya Paloh saja, tapi juga sangat bisa dilakukan oleh mas AHY. Ini demi penguatan, perluasan dan pencapaian koalisi perubahan dan persatuan yang lebih progressif.
Artikel ini ditulis oleh:
Antara
Rizky Zulkarnain















