Banda Aceh, Aktual.co — Pengusaha kopi gayo asal Aceh kesulitan menembus pasar negara Skandinavia. Selama ini, negara yang rutin membeli kopi gayo yaitu Inggris, Jerman dan Belanda.
Eksportir asal Aceh Tengah, Haji Rasyid menyebutkan pihaknya kesulitan menembus pasar Uni Eropa khususnya negara-negara Skandinavia.
“Sepertinya masih ada proteksi ekonomi, sehingga negara-negara Skandinavia mendapatkan kopi Gayo dari Jerman ataupun Belanda,” ujar Haji Rasyid, Sabtu ( 8/5).
Sehari sebelumnya, digelar koordinasi antara Kepala Bainprom Aceh Iskandar, Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani, Bupati Aceh Tengah Nasaruddin, beberapa pejabat kementerian dan SKPA terkait serta SKPK berkenaan dari dua kabupaten, serta beberapa pedagang dan eksportir kopi lokal terkait kopi gayo.
Sementara Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin mengakui pangsa pasar kopi gayo selama ini lebih besar ke Amerika, sedangkan Uni Eropa relatif kecil. Bupati memperkirakan setiap tahun sekitar 20 ribu ton kopi Gayo asal Kabupaten Aceh Tengah diekspor ke luar negeri, namun yang mengurus spek (Surat Persetujuan Ekspor Kopi) di Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat hanya berkisar 5,5 ton saja.
“Jika Pelabuhan Krueng Geukuh beroperasi, kami perkirakan ekspor kopi akan meningkat,” ujar Nasruddin.
Hal menarik lainnya, Nasaruddin mengungkapkan perkebunan kopi di Aceh Tengah 100 persen milik petani, sehingga bila ada peningkatan produksi dan membaiknya harga, para petani lah yang menikmati manfaatnya
“Kalau lahan perkebunan kopi diserahkan kepada swasta, maka rakyat hanya akan jadi pekerja, makanya Aceh Tengah tidak beri izin penguasaan lahan perkebunan kopi kepada pihak swasta,” kata Nasaruddin
Sementara itu, Bupati Bener Meriah, Ruslan Abdulgani menyebutkan kopi gayo optimis mampu bersaing dalam pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Artikel ini ditulis oleh:
Wisnu

















