Asap mengepul setelah serangan udara Israel di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, Kamis (26/10/2023).

Jakarta, aktual.com – Kementerian Kesehatan yang dikelola oleh Hamas mengumumkan bahwa jumlah korban tewas di Gaza telah melebihi angka 10.000 orang. Angka tersebut adalah hasil akumulasi selama hampir satu bulan serangan oleh Israel yang meningkatkan intensitasnya dalam konfrontasi dengan militan Palestina.

Dalam berita yang dilaporkan oleh AFP pada Selasa (7/11/2023), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah berjanji untuk tidak menyerah meskipun ada seruan untuk gencatan senjata. Pejabat Israel mencatat bahwa ketegangan ini berawal dari serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober yang menyebabkan lebih dari 1.400 orang tewas di Israel, yang menurut mereka sebagian besar adalah warga sipil, dan juga menyebabkan lebih dari 240 orang disandera.

Pihak Gedung Putih mengumumkan bahwa dalam panggilan telepon pada Senin (6/11), Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Netanyahu telah membicarakan kemungkinan “jeda taktis.” Meskipun demikian, tidak ada kesepakatan resmi yang diumumkan oleh kedua belah pihak. Selain itu, selama pembicaraan tersebut, mereka tidak membahas opsi gencatan senjata kemanusiaan, yang dianggap sangat penting oleh PBB.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa korban tewas di Gaza termasuk lebih dari 4.000 anak-anak. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengungkapkan kepada media bahwa daerah yang mengalami serangan udara telah menjadi “tempat pemakaman bagi anak-anak.”

Biden sebelumnya mempertanyakan keabsahan angka yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Gaza, namun juru bicara Pentagon pada Senin mengakui bahwa korban warga sipil mencapai ribuan.

Pasukan darat dengan tank telah mengepung bagian utara Jalur Gaza dan memperketat pengepungan Kota Gaza, yang pada dasarnya membagi wilayah tersebut menjadi dua.

Tentara Israel menyatakan telah melancarkan serangan “signifikan” terhadap 450 target dalam waktu 24 jam sejak Minggu pagi, sementara pasukan mereka mengincar komandan Hamas di terowongan bawah tanah.

“Kami akan mampu membongkar Hamas, benteng demi benteng, batalion demi batalion, sampai kami mencapai tujuan akhir, yaitu menyingkirkan Jalur Gaza – seluruh Jalur Gaza – dari Hamas,” kata juru bicara militer Israel Jonathan Conricus.

Namun, seorang pejabat senior Hamas di Lebanon, yaitu Osama Hamdan, menyatakan bahwa kelompok mereka, yang meluncurkan 16 roket dari Lebanon ke arah Israel utara pada hari Senin sebelumnya, tidak akan menerima pemerintahan yang dianggap sebagai boneka di Gaza. Ia juga menegaskan bahwa Hamas di Gaza tidak akan bisa dihancurkan oleh kekuatan manapun di dunia.

Di sisi lain, pemberontak Huthi di Yaman yang mendapat dukungan dari Iran mengklaim telah melakukan serangan dengan pesawat tak berawak baru terhadap Israel, memperkuat kampanye serangan yang telah mereka lakukan, yang mengkhawatirkan kemungkinan perluasan konflik.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain