Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi. Dok. Istimewa

Jakarta, Aktual.com – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi mengungkapkan bahwa tim OJK sedang melakukan identifikasi dan pemetaan baik pelaku, produk, maupun infrastruktur keuangan derivatif dengan underlying efek (baik syariah maupun konvensional).

Menurut Inarno, produk tersebut akan dialihkan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), termasuk di antaranya kontrak derivatif indeks saham dan kontrak derivatif saham tunggal asing.

“Saat ini tim OJK sedang melakukan identifikasi dan pemetaan baik pelaku, produk, maupun infrastrukturnya,” ujar Inarno dalam Jawaban Tertulis Konferensi Pers RDKB OJK Desember 2023 di Jakarta, Kamis (11/1).

Inarno menjelaskan bahwa proses peralihan produk derivatif keuangan dari Bappebti ke OJK masih menunggu penetapan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai Peralihan Tugas Pengaturan dan Pengawasan Aset Keuangan Digital, termasuk Aset Kripto serta Derivatif Keuangan. PP ini akan mengatur mekanisme perpindahan produk derivatif keuangan dari Bappebti ke OJK.

Sementara itu, terkait infrastruktur produk derivatif, pasar modal Indonesia saat ini sudah memiliki mekanisme perdagangan derivatif efek melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai SRO yang diawasi oleh OJK.

“Namun demikian, OJK masih terus melakukan kajian dan pemetaan terkait penggunaan infrastruktur produk derivatif ke depan,” ujar Inarno.

Sebagai diketahui, Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) mewajibkan pengaturan dan pengawasan beberapa produk keuangan derivatif dipindahkan dari Bappebti ke OJK.

Dalam kesempatan tersebut, Inarno juga menyampaikan bahwa konsensus global memperkirakan pertumbuhan perekonomian global akan melambat pada tahun 2024, seiring dengan penurunan konsumsi dan investasi dari China.

Bank Dunia dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 2,4 hingga 2,7 persen, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan sekitar 2,9 persen.

Untuk ekonomi Indonesia, IMF memperkirakan pertumbuhan akan tetap stabil di 5 persen pada tahun 2024, dengan tingkat inflasi diproyeksikan berada dalam rentang target sekitar 2,5 persen.

Artikel ini ditulis oleh:

Sandi Setyawan