Jakarta, Aktual.co — Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2015 melambat atau hanya tumbuh 4,7% (year on year/YoY). Pertumbuhan ekonomi periode tersebut terendah sejak 2009 yang berada di level 4,52%.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan, dari sisi ekonomi sektoral, hampir semua mengalami perlambatan. Namun yang parahnya, perlambatan tersebut justru terjadi pada sektor tradable yang langsung memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh, ekspor, hingga cadangan devisa.
“Indeks tendensi bisnis juga turun. Ini kan merefleksikan bagaimana persepsi pelaku usaha untuk berjalannya ekonomi ke depan. Kalau sampai persepsi ini negatif, artinya berbagai macam paket kebijakan dan insentif yang dilakukan pemerintah ini tidak punya dampak terhadap dunia usaha kita,” ujar Heri di Kantornya, Jakarta, Jumat (8/5).
Ia menjelaskan, kondisi ini diperparah dengan buruknya kinerja ekspor Indonesia. Meskipun neraca perdagangan pada kuartal I surplus, namun itu lebih disebabkan karena impor yang turun menjadi 15,1% dan bukan disebabkan oleh prestasi ekspor Indonesia.
“Ini (penurunan ekspor) implikasi dari lambatnya hilirisasi komoditas kita. Belum ada basis manufaktur yang bisa kita andalkan untuk tingkatkan ekspor,” ungkapnya.
Selain itu, sambung dia, masyarakat juga terbebani dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berfuktuatif terlebih di saat bersamaan tarif listrik dan gas elpiji juga ikut naik.
“Ini dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi untuk menjustifikasi setiap kenaikan harga. Itu kan komoditas yang pemerintah punya kendali mengatur harganya. Pemerintah justru tidak melakukan itu, dan ini memicu peningkatan harga lainnya,” tegasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka












