Jakarta, Aktual.co — Bank Indonesia (BI) meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan No 24, Maret 2015 dengan tema Memperkuat Stabilitas Sistem Keuangan di Tengah Dinamika Tantangan Global dan Domestik. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan Indonesia masuk dalam kategori negara fragile five, namun karena koordinasi yang baik antara pemerintah dengan BI serta lembaga keuangan lainnya, di akhir 2014 Indonesia bisa keluar dari fragile five.

“Bahkan kita masuk yang dihormati dalam menjaga keseimbangan stabilitas makroekonomi. Secara umum koordinasi kita baik,” ujar Agus di gedung Bi Jakarta, Jumat (8/5).

Lebih lanjut dikatakan dia, pertumbuhan ekonomi global yang menurun ini berdampak ke banyak negara, termasuk China. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi China turun menjadi 7,7 persen, bahkan diperkirakan hingga 6,8 persen.

“Makanya wajar kalau ekonomi itu slow turunnya, kelihatan dari harga komoditasnya. Paa 2014-2015 delapan komoditi andalan Indonesia secara qtq dan yoy selalu negatif, harganya selalu turun,” kata dia.

Agus juga mengatakan Indonesia tidak handal dalam menjaga daya saing ekspor, khususnya barang manufaktur. Ekspor barang manufaktur Indonesia, kata dia, hampir 50 persennya adalah barang mentah, 30 persennya adalah crude palm oil (CPO) dan 27 persen batubara.

“Kalau energi sedang murah dan China jaga lingkungan, maka menekan ekonomi kita. Kalau kita mau terus ekspor barang mentah kita sama saja seperti jaman penjajahan 300 tahun lalu, maka wajar kalau kita batasi ekspor,” pungkasnya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka