Jakarta, Aktual.co — Pelaksanaan “Pemilu Demokratis” tidak membawa perubahan signifikan bagi penduduk Indonesia. Pelaksanaan demokrasi prosedural hanyalah hiburan yang tidak merubah nasib 70 juta warga miskin setelah pemilihan presiden.
Pernyataan tersebut disampaikan aktivis senior, Hariman Siregar, usai peringatan peristiwa Malari, Sukabumi, Jumat (16/1).
“Para elite politik secara langsung maupun tidak langsung yang dihasilkan oleh pelaksanaan prosedural paska reformasi, tidak pernah bersungguh-sungguh memperjuangkan hal substansial”, ungkap Hariman, Sukabumi, Jumat (16/1).
Menurutnya selama pemilihan umum berlangsung apapun yang diucapkan saat kampanye terhenti sekedar menjadi jargon.
“Para anggota legislatif yang dipilih melalui milihan umum, lebih sibuk memainkan akrobat politik yang tidak berkaitan dengan urusan orang banyak yang memilihnya,” katanya.
Hariman mengungkapkan hubungan antara politik formal yang diperankan oleh elite politik penyelenggara Negara dan rakyat seolah terputus setelah pemilu diselenggarakan.
Hariman juga menambahkan ditengah-tengah hubungan antara negara dan rakyat semestinya muncul kelompok masyarakat sipil yang kuat sehingga demokrasi tidak mudah diselewengkan elite politik yang mengatas-namakan Negara.
“itulah yang membuat pelaksanaan demokrasi pasca reformasi tidak berkorelasi dengan kesejahteraan rakyat,” demikian Hariman.
Artikel ini ditulis oleh:

















