Jakarta, Aktual.co — Bank Indonesia (BI) meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 akan sesuai target ditopang dari kontribusi pemerintah yang akan maksimal untuk menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015.

“Pertumbuhan ekonomi tetap akan sesuai target di kisaran 5,4-5,8 persen. Tapi kemungkinan berada di batas bawah,” ujar Gubernur BI Agus Martowardojo dalam acara Institute of International Finance (IIF) Asia Summit di Jakarta, Kamis (7/5).

Menurut dia, target itu akan tercapai seiring dengan adanya kontribusi dari pemerintah yang akan menyerap anggaran untuk pembangunan infrastruktur sehingga akan mendorong investasi serta konsumsi di dalam negeri akan meningkat yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ia mengharapkan bahwa upaya untuk melaksanakan reformasi struktural dalam mengendalikan inflasi dan perbaikan defisit neraca transaksi berjalan dapat terus dijalankan, hal itu penting untuk mengimbangi sentimen negatif yang datang dari global.

Secara umum, lanjut dia, perlambatan pertumbuhan ekonomi global masih harus terus diwaspadai. Terutama, seiring penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan tren penurunan harga komoditas. Selain itu, di pasar modal juga masih ada risiko keluarnya dana asing (capital outflow).

Agus Martowardojo menambahkan bahwa salah satu yang juga perlu diwaspadai Indonesia yakni inflasi, menyusul rencana penghapusan LPG bersubsidi tiga kilogram, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bagi pelanggan berdaya kecil yakni 450 dan 900 volt ampere (VA).

“Itu harus dilakukan secara bijaksana dan terencana agar inflasi tetap terjaga di ksiaran 4 plus minus 1 persen,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, yang juga perlu diwaspadai adalah biaya transportasi dari perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengikuti harga dunia serta ketersediaan bahan pangan dan kewajaran harga menjelang bulan puasa.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Mandiri Institute Destry Damayanti mengatakan bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai target maka diperlukan “trigger” khusus dari pemerintah untuk memudahkan investasi swasta masuk sehingga ikut menopang pertumbuhan ekonomi.

“Dibutuhkan ‘trigger’ khusus seperti kemudahan perizinan,” katanya.

Ia mengemukakan bahwa Mandiri memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dapat mencapai 5,3 persen. Untuk tumbuh sebesar 5,7 persen dinilai agak berat karena tahun ini merupakan tahun penyesuaian bagi pemerintah baru.

“Tahun ini merupakan tahun transisi pemerintah lama ke baru. Ada perubahan ‘policy’, dan prioritas. Waktu kita sudah terbuang satu kuartal untuk proses ‘budgeting’ transisi dan lain-lain,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka