Jakarta, Aktual.co —  Wakil Presiden Jusuf Kalla sangat optimis jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2015 akan mengalami peningkatan mencapai lebih dari lima persen. 
 “Oh, tentu di atas 5 persen,” ujar JK usai memberikan sambutan pada acara IIF Asia Summit 2015 di Hotel Ritz Carlton SCBD, Jakarta, Kamis (7/5)
JK juga menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh pemerintah sebesar 5,7 persen itu akan terealisasi. “Mencapai 5,7 persen tentu, sekarang di atas 5 persen target di kuartal II. Kita perkirakan (tahun ini) di atas 5 persen,” katanya.
Dan untuk mencapai pertumbuhan tersebut, kata JK, butuh dukungan dari semua sektor. “Pokoknya harus jalan semua, industri juga harus jalan, proyek pengairan, otomatis belanja juga naik, konsumsi juga naik,” tegasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada trwiulan pertama 2015 sebesar 4,71 persen year-on-year, sedangkan secara kuartalan turun 0,18 persen. Angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan triwulan pertama 2014 yang sebesar 5,21 persen.
Kepala BPS, Suryamin mengatakan tren penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, Dia menyebutkan beberapa negara yang juga mengalami penurunan ekonomi, seperti Tiongkok yang turun 0,4 persen, Singapura turun 2,8 persen.
“Harga minyak yang melemah juga memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi triwulan satu ini. Ekspor impor yang turun pada triwulan pertama ini berpengaruh terhadap impor bangunan, mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi triwulan pertama,” ujar Suryamin di kantor BPS Jakarta, Selasa (5/5).
Lebih lanjut dikatakan dia, pertumbuhan ekonomi tertinggi berdasarkan kuartalan terjadi pada sektor pertaniaan, yakni dengan share 14,63 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Selanjutnya yaitu sektor informasi dan komunikasi dengan share 3,06 terhadap PDB, dan jasa perusahaan dengan share 2,24 terhadap PDB.
“Dari sisi produksi menurun akibat mundurnya peride tanam, produksi minyak mentah dan batu bara mengalami kontraksi, distribusi perdagangan melambat, dan kinerja knstruksi juga melambat,” jelas dia.
Suryami juga menjelaskan penyebab menurunnya pertumbuhan ekonomi pada triwula pertama 2015 dari sisi pengeluaran, diantaranya yaitu semua komponen pengeluaran ruah tangga yang menurun, pengeluaran konsumsi pemerintah yang menurun, realisasi belanja modal pemerintah lebih rendah, dan impor barang modal yang menurun.
“Ekspor barang terkontraksi juga karena turunya harga komoditas, dan ekspor jasa juga terkontraksi melambatnya pertumbuhan jumlah wisman,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh: