Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP (Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute)
Jakarta, aktual.com – Kerusakan negara bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia lahir dari akumulasi kesalahan sistemik—politik yang kehilangan arah kenegarawanan, hukum yang prosedural tetapi jauh dari keadilan substantif, ekonomi yang tumbuh secara statistik namun rapuh secara struktural, serta konstitusi yang ditambal tanpa pernah dirancang ulang secara serius. Dalam situasi seperti ini, bukan hanya negara yang berubah, tetapi rakyat pun bereaksi dengan cara yang berbeda-beda.
Sebagaimana tubuh yang sakit memunculkan beragam respons biologis, negara yang rusak juga melahirkan lima respons sosial rakyat. Kelima respons ini tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan atau ideologi, melainkan oleh cara rakyat memaknai dan menyikapi kerusakan negara itu sendiri.
Pertanyaan pentingnya bukan lagi “siapa yang salah”, melainkan: kita berada di respons yang mana?
Pertama: Rakyat sebagai Set — Penikmat Cerita Kerusakan
Respons paling umum adalah rakyat yang gemar mengonsumsi cerita kerusakan negara. Mereka rajin mengikuti kabar skandal, konflik elite, kegagalan kebijakan, dan narasi negara yang terus-menerus salah arah. Namun respons ini berhenti di level konsumsi emosi.
Ibarat bau (set), kehadiran mereka menandakan adanya kerusakan, tetapi tidak pernah masuk ke wilayah perbaikan. Mereka tidak menciptakan masalah, tetapi juga tidak berkontribusi pada solusi. Kritik menjadi rutinitas, kemarahan menjadi hiburan, dan keputusasaan menjadi kebiasaan.
Dalam jangka panjang, respons ini membuat masyarakat terbiasa hidup dalam krisis tanpa lagi merasa perlu menyembuhkannya.
Kedua: Rakyat sebagai Belatung — Hidup dari Kerusakan
Respons kedua lebih problematik: rakyat atau kelompok yang hidup dari masalah akibat kerusakan negara. Mereka mendapatkan keuntungan ekonomi, politik, atau popularitas dari kondisi yang tidak sehat.
Kerusakan negara bagi mereka bukan musibah, melainkan sumber daya. Semakin rusak sistemnya, semakin besar peluang untuk mendapatkan klik, suara, kekuasaan, atau legitimasi.
Seperti belatung, mereka tidak menciptakan bangkai, tetapi tumbuh subur di dalamnya. Dalam logika ini, solusi justru berbahaya—karena jika negara membaik, maka sumber keuntungan mereka mengering.
Ketiga: Rakyat sebagai Iritasi — Marah tapi Tidak Mau Belajar
Respons ketiga adalah rakyat yang marah, frustrasi, dan reaktif, tetapi enggan belajar atau berpikir sistemik. Mereka lantang, emosional, dan sering kali merasa paling peduli, namun alergi pada diskusi panjang, kerangka konstitusional, dan kerja intelektual.
Ibarat iritasi, respons ini menunjukkan bahwa ada yang salah, tetapi reaksi yang muncul justru memperparah rasa sakit. Energi habis untuk kemarahan, bukan untuk penyembuhan.
Dalam respons ini, semua dianggap salah, tetapi tidak pernah ada waktu untuk memahami bagaimana seharusnya yang benar.
Keempat: Rakyat sebagai Sel Imun — Belajar dan Menyusun Solusi
Di tengah hiruk-pikuk kemarahan dan eksploitasi krisis, ada kelompok yang jarang disorot: rakyat yang memilih belajar, berpikir, dan menyusun solusi. Mereka mempelajari hukum tata negara, ekonomi politik, dan desain kelembagaan dengan kesabaran.
Mereka adalah sel imun dalam tubuh bangsa. Tidak viral, tidak sensasional, tetapi bekerja menjaga agar negara tidak runtuh total. Mereka memahami bahwa mengganti orang tanpa memperbaiki sistem hanya akan mengulang siklus kerusakan.
Respons ini sering tidak populer, karena solusi memang tidak seatraktif masalah.
Kelima: Rakyat sebagai Regenerasi Jaringan — Membangun Sistem Baru
Respons terakhir adalah yang paling langka dan paling menentukan: rakyat yang berani membangun sistem baru. Mereka tidak berhenti pada kritik atau pembelajaran, tetapi masuk ke wilayah desain ulang negara—konstitusi, kelembagaan, dan arah kebijakan.
Mereka adalah regenerasi jaringan. Prosesnya lambat, melelahkan, dan sunyi, tetapi hanya inilah jalan agar negara tidak sekadar bertahan dalam sakit, melainkan benar-benar pulih.
Dalam konteks ini, inisiatif seperti Sekolah Negarawan dapat dibaca sebagai upaya membentuk sel imun sekaligus produsen regenerasi jaringan—dengan kerja serius menyusun rancangan akademik dan naskah Rancangan Amandemen Kelima UUD NRI 1945, bukan sekadar retorika politik.
Pilihan Respons Menentukan Masa Depan Bangsa
Kegelisahan yang pernah disampaikan Cak Nun—mengapa bangsa ini tidak membusuk padahal sistemnya salah kaprah—mungkin menemukan jawabannya di sini. Bangsa ini bertahan bukan karena sistemnya sehat, melainkan karena masih ada sebagian rakyat yang memilih menjadi sel imun dan regenerasi jaringan.
Namun masa depan tidak ditentukan oleh sedikit orang yang bekerja diam-diam, melainkan oleh pilihan kolektif: apakah mayoritas rakyat akan terus berhenti di fase set, belatung, dan iritasi, atau mulai bergerak ke fase penyembuhan.
Karena negara yang rusak tidak selalu mati. Tetapi ia bisa mandek sangat lama—jika terlalu banyak warganya terbiasa hidup di dalam kerusakan, dan terlalu sedikit yang bersedia menyembuhkannya.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain
















