Jakarta, Aktual.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela hingga awal 2026 belum memberikan dampak langsung terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia. Penilaian tersebut tercermin dari belum adanya tekanan signifikan melalui pergerakan harga minyak dunia maupun komoditas utama ekspor nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan sektor jasa keuangan domestik masih berada dalam kondisi relatif terjaga di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Namun demikian, OJK tetap mewaspadai potensi risiko jangka menengah hingga panjang seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
“Dalam jangka pendek, dampaknya belum terlihat dan belum terasa secara langsung bagi Indonesia,” ujar Mahendra dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar secara virtual, Jumat (9/1/2025).
Mahendra menjelaskan, eskalasi konflik geopolitik global berpotensi memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang sebelumnya telah diproyeksikan melandai. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memicu volatilitas pasar keuangan dan meningkatkan risiko eksternal bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kondisi ini menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi dari seluruh lembaga jasa keuangan,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, OJK mendorong perbankan serta lembaga keuangan nonbank untuk memperkuat pemantauan terhadap risiko pasar, risiko likuiditas, serta kualitas kredit dan pembiayaan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketahanan sektor jasa keuangan nasional di tengah potensi tekanan global.
Dari sisi domestik, OJK menilai perekonomian Indonesia masih ditopang oleh inflasi yang relatif terkendali, kinerja sektor manufaktur yang berada di zona ekspansif, serta neraca perdagangan yang mencatatkan surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi penyangga utama stabilitas sistem keuangan nasional.
Ke depan, OJK memastikan akan terus menyiapkan kebijakan yang bersifat antisipatif dan responsif terhadap dinamika global. “Kami memastikan stabilitas sistem keuangan tetap menjadi prioritas utama,” kata Mahendra.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















