Ilustrasi - penyakit dan wabah flu. ANTARA/Shutterstock/pri.

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta Kementerian Kesehatan meningkatkan pengawasan terhadap penyebaran Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super flu, menyusul adanya satu korban meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat.

Yahya menilai kasus kematian tersebut menjadi bukti bahwa super flu tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

“Karena itu, Kemenkes harus meningkatkan surveilans secara menyeluruh kepada seluruh warga, terutama di daerah-daerah yang sudah terjangkit,” kata Yahya dalam keterangannya, Selasa (13/1).

Ia juga meminta Kemenkes memberikan peringatan yang tegas dan jelas kepada masyarakat terkait potensi bahaya super flu. Menurutnya, pernyataan sebelumnya yang menyebut penyakit ini tidak berbahaya perlu diluruskan.

“Dengan bukti ada yang meninggal, super flu termasuk penyakit yang membahayakan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Yahya mendorong Kemenkes menyiapkan langkah-langkah antisipasi secara komprehensif, mulai dari kesiapan rumah sakit, ketersediaan dokter spesialis, obat-obatan, hingga vaksin, apabila penyebaran super flu meluas ke berbagai wilayah.

Selain peran pemerintah pusat, ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kondisi fisik, rutin berolahraga, menghindari kerumunan, serta menggunakan masker saat berada di tempat ramai.

Yahya menegaskan, pemerintah daerah juga harus proaktif dalam melakukan pencegahan, termasuk memastikan kesiapan fasilitas kesehatan di daerah masing-masing.

“Pemda harus bersiap, termasuk menyiapkan rumah sakit bagi warganya yang terkena super flu,” ujar politikus Golkar tersebut.

Sebelumnya, RSUP Hasan Sadikin Bandung (RSHS) melaporkan telah menangani 10 pasien dengan gejala infeksi Influenza A H3N2 subclade K. Dari jumlah tersebut, satu pasien dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi bawaan yang memburuk.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging RSHS Bandung, Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa pemantauan terhadap dugaan kasus super flu telah dilakukan sejak Agustus hingga November 2025. Berdasarkan hasil pemantauan, tren kasus sebenarnya menunjukkan penurunan signifikan sejak November lalu.

“Meskipun sampel diperiksa secara bertahap, data lengkap mengenai 10 kasus yang dinyatakan positif Influenza A H3N2 subclade K ini baru kami terima secara utuh pada bulan Januari ini,” ungkap dr Yovita dalam keterangannya di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1).

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain