Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2015 akan berada di kisaran 10-12 persen, lebih rendah dari arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 15-17 persen.

“Pertumbuhan kredit 10-12 persen sampai akhir tahun karena dari pihak bank sendiri mereka memiliki problem, mereka banyak menerima funding (dana) tapi landingnya (penyaluran kredit) agak susah,” ujar Tony di Jakarta, Rabu (6/5).

Menurut Tony, kredit perbankan tahun ini agak sulit tumbuh lebih tingi karena confidence (kepercayaan) dari pebisnis sendiri masih lemah sehingga confidence perbankan juga ikut berkurang.

Para investor juga dinilai masih menunggu (wait and see) sehingga menumpuk uangnya di bank sehingga bank sendiri kelebihan likuiditas. Pengusaha sendiri juga masih ragu-ragu sedangkan dari pihak perbankan juga mengerem laju pertumbuhan kredit kendati dana meningkat.

“Bank juga jadi ikut-ikutan melemah karena kalau bank terlalu agresif takut berisiko NPL (rasio tingkat kredit bermasalah) tinggi,” kata Tony.

Dari sisi fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit per Februari 2015 tercatat 12,2 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 11,5 persen (yoy). Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan stabil di kisaran 2 persen.

Adapun sektor yang masih akan tumbuh melambat tahun ini, lanjut Tony, yakni terutama sektor primer seperti pertambangan dan perkebunan yang pada 2009 harganya sangat bagus sekarang jatuh sehingga perlu diwaspadai.

“Tapi sektor consumer goods masih bagus, kemudian untuk food (makanan) masih stabil. Jadi ritel dan konsumer itu masih jalan, properti juga masih, tapi tetap harus waspada,” kata Tony.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka