Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menilai ISC-Pertamina sudah seharusnya menjadi lebih baik dari Petral, baik dari segi performance maupun transparansi dalam hal tender. Pasalnya, pada 23 Februari 2015, unit usaha Pertamina yakni Integrated Supply Chain (ISC) mengundang tender LPG yang terdiri atas Butane dan Propane untuk loading bulan April 2015 dengan spot total 44.000 mt. ISC-Pertamina menunjuk Total sebagai pemenang tender yang jelas melakukan pricing untuk bulan Maret yang seharusnya bulan April 2015.
“ISC harus menjadi wadah terintegrasi dalam pengadaan dan sekaligus berperan sebagai trader arm dari korporasi Pertamina. Agar tidak mengulang kesalahan petral di masa lalu, maka ISC-Pertamina harus lebih transparan dan publik bisa ikut mengawasi,” ujar anggota komisi VII DPR RI Satya Yudha di Jakarta, Kamis (6/5).
Sementara itu, pihak ISC-Pertamina sendiri mengaku sudah melakukan transparansi terkait tender tersebut yang merugikan negara hingga Rp5,2 miliar.
“Proses tender LPG tersebut sudah dilakukan dengan benar dan transparan. Keputusan tim tender sudah dengan justifikasi operasional dan commercial yang jelas,” ujar Vice Presiden ISC-Pertamina, Daniel Purba kepada Aktual.
Namun, ketika ditanya lebih lanjut terkait transparansi tender yang dimaksud seperti apa, dirinya enggan menjawab.
Seperti diberitakan sebelumnya, berdasarkan data yang ada, jumlah harga dari Total yang terdiri dari CP Aramco Maret dikurangi diskon USD7,5 adalah USD472,5. Sedangkan harga dari Petredec yang terdiri dari CP Aramco dikurangi diskon USD2,5 adalah USD462,5. Disini jelas terlihat perbedaan Total dan Petredec senilai USD10 per MT.
Sehingga total kerugian yang dialami Pertamina dan negara mencapai USD440.000. Selain itu, berdasarkan dua alat bukti, terdapat pihak yang diuntungkan, yaitu perusahaan Total.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka














