Jakarta, Aktual.com – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dinamika global yang kian memanas dan berpotensi mengarah pada terjadinya Perang Dunia Ketiga. Hal tersebut disampaikan SBY melalui akun media sosial X miliknya, @SBYudhoyono, Selasa (20/1/2026).
“Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia, terlebih dinamika global dalam bulan-bulan terakhir,” tulis SBY.
SBY mengaku cemas melihat eskalasi geopolitik global. Sebagai tokoh yang puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, ia menilai situasi dunia saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.
“Terus terang saya khawatir. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi jika prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ujarnya.
Menurut SBY, kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga sangat nyata, meskipun ia masih meyakini skenario tersebut dapat dicegah. Namun, ruang dan waktu untuk mencegahnya dinilai semakin sempit dari hari ke hari.
Ia menyoroti munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang agresif, pembentukan blok-blok negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, hingga memanasnya geopolitik global sebagai tanda-tanda yang patut diwaspadai.
“Sejarah mencatat, meskipun tanda-tanda perang besar sudah nyata, sering kali kesadaran dan langkah konkret untuk mencegahnya justru tidak dilakukan,” tulisnya.
SBY menilai kemungkinan kegagalan pencegahan perang besar disebabkan oleh ketidakpedulian, ketidakberdayaan, atau ketidakmampuan negara-negara di dunia untuk bertindak bersama. Ia pun mengingatkan dampak kehancuran yang akan ditimbulkan jika perang dunia, terlebih perang nuklir, benar-benar terjadi.
“Banyak studi menyebutkan, jika perang dunia dan perang nuklir terjadi, korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa,” ungkapnya.
Meski demikian, SBY menegaskan harapan belum sepenuhnya tertutup. Ia menyerukan perlunya langkah nyata dari komunitas internasional, bukan hanya doa.
“Tidak cukup hanya dengan doa. Tuhan tidak serta-merta mengabulkan jika manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak berupaya menyelamatkan dunianya,” tulisnya.
SBY pun mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menginisiasi Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly) yang melibatkan para pemimpin dunia untuk membahas langkah konkret pencegahan krisis global dan perang besar.
“Saya tahu PBB saat ini dinilai tidak berdaya. Tetapi jangan sampai sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan tidak berbuat apa-apa,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, SBY mengingatkan pesan klasik tentang bahaya pembiaran terhadap kejahatan global.
“Kalau orang-orang baik diam, maka yang jahat akan menang. If there is a will, there is a way,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















