Jakarta, Aktual.com – Memanasnya tensi geopolitik global memicu kekhawatiran terhadap potensi dampak ekonomi dan keamanan dunia. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya menyampaikan kecemasan tersebut melalui tulisan terbuka yang menyoroti risiko eskalasi konflik internasional.
Menanggapi situasi itu, Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mendorong pemerintah menyiapkan langkah antisipatif dengan memperkuat kemandirian pangan dan energi nasional guna menghadapi kemungkinan gangguan ekonomi apabila terjadi konflik global berskala besar.
“Selain mengambil langkah-langkah antisipasi, pemerintah perlu mempersiapkan kemandirian cadangan pangan, energi, dan keuangan untuk menghadapi kemungkinan gangguan ekonomi akibat perang,” kata Daniel dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).
Menurut Daniel, penguatan kemandirian pangan dan energi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas pertahanan nasional. Ia menilai sistem pertahanan yang kuat menjadi prasyarat penting dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu.
“Hal itu harus dibarengi dengan penguatan dan kemandirian pertahanan, termasuk peningkatan kemampuan pasukan serta pengembangan teknologi pertahanan, seperti sistem pertahanan udara dan siber,” ujarnya.
Selain aspek pertahanan, Daniel menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. Pemerintah, lanjutnya, perlu memastikan keamanan sumber daya alam dan infrastruktur strategis nasional.
Ia juga mendorong penguatan kerja sama regional dan internasional sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko. Menurut Daniel, stabilitas kawasan hanya dapat dijaga melalui kolaborasi antarnegara.
“Pemerintah perlu memperkuat kerja sama regional dan internasional untuk menghadapi ancaman ini,” tuturnya.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menambahkan, Indonesia perlu memainkan peran aktif dalam diplomasi internasional guna menjaga stabilitas regional dan global. Upaya tersebut, kata dia, sejalan dengan amanat konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
“Indonesia sebagai negara dengan posisi strategis harus aktif memperkuat diplomasi, terutama melalui ASEAN dan PBB, untuk menjaga stabilitas regional dan global agar perdamaian tetap terjaga dengan tetap berpedoman pada prinsip nonblok,” pungkas Daniel.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















