Jakarta, aktual.com – Konflik geopolitik Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran global, yang dilatar belakangi aksi unjuk rasa di negara penghasil minyak terbesar di Timur Tengah tersebut, hal ini pula menyusul tewasnya ribuan demonstran di Republik Negara Islam itu.
Indonesia sebagai negara nonblok turut mencermati potensi dampak yang bisa timbul, baik dari sisi perlindungan warga negara Indonesia (WNI), stabilitas ekonomi nasional, hingga posisi diplomasi luar negeri.
Peneliti Keamanan Internasional Indo Pacific Strategic Intelligence (ISI), Aisha Rasyidila Kusumasomantri, menilai bahwa pemerintah Indonesia saat ini masih berada pada jalur aman, namun tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
“WNI di Iran tetap dipantau dan sampai sekarang relatif aman, tapi pemerintah Indonesia lewat Kedubes Iran bilang terus menjaga komunikasi dengan WNI di sana terkait situasinya,” ujar dia
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan respons cepat apabila terjadi perubahan situasi keamanan akibat meningkatnya tensi konflik.
Namun, disisi lain kata dia, dampak konflik dalam negara Iran, dan masuknya AS hal itu, lanjut Aisha dirasakan Indonesia melalui kenaikan harga minyak global.
“Jika harga minyak dunia naik, dampaknya bisa menjalar ke Indonesia dalam bentuk kenaikan biaya energi dan tekanan inflasi,” jelas Aisha.
Pasalnya, Iran merupakan salah satu pemain utama di pasar energi dunia. Jika konflik meningkat dan mengganggu jalur distribusi minyak strategis seperti Selat Hormuz, lonjakan harga minyak sulit dihindari.
“Kalau konflik makin parah atau ganggu jalur minyak (misal Selat Hormuz), harga minyak dunia bisa naik yang ujungnya bikin biaya energi dan inflasi di Indonesia ikut nambah,” ungkap dia.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta menambah beban fiskal pemerintah, terutama dalam pengelolaan subsidi energi.
Selain aspek ekonomi, Alumni Universitas Indonesia ini menegaskan bahwa konflik Iran dan intervensi Amerika Serikat juga berpotensi memengaruhi dinamika hubungan luar negeri Indonesia.
“Isu geopolitik juga bisa berpengaruh ke hubungan luar negeri Indonesia, terutama soal keseimbangan antara negara-negara besar yang bersikap terhadap Iran,” ujar dia.
Menurut Aisha, Indonesia juga perlu menjaga keseimbangan diplomatik di tengah perbedaan sikap negara-negara besar terhadap Iran.
“Indonesia cenderung berhati-hati dalam menyikapi isu Iran. Sikap ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut,” katanya.
Di dalam negeri, isu Iran juga sensitif karena berkaitan dengan faktor politik, ideologi, dan stabilitas kawasan. Oleh karena itu, pendekatan diplomasi yang moderat dan terukur dinilai sebagai langkah paling realistis bagi Indonesia.
Lanjut dia, meski belum berdampak langsung secara signifikan, konflik Iran dan intervensi AS tetap menjadi perhatian serius bagi Indonesia.
Namun, pemerintah dituntut untuk terus menjaga perlindungan WNI, dan mengantisipasi dampak ekonomi global, serta mempertahankan posisi strategis Indonesia dalam percaturan geopolitik internasional.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















