Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) menegaskan nilai tukar rupiah masih berada dalam zona aman dengan dukungan cadangan devisa sebesar 156 miliar dolar AS di tengah tekanan global. Otoritas moneter menilai posisi cadangan devisa tersebut menjadi bantalan utama dalam menjaga stabilitas eksternal dan kepercayaan pasar.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menekankan bahwa kekuatan cadangan devisa memberikan ruang kebijakan yang cukup luas bagi bank sentral.
“Cadangan devisa kita masih sangat kuat di level 156 miliar dolar AS,” ucap Destry dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah belakangan ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara sekelompok akibat dinamika global. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah membalikkan persepsi pasar agar kembali sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian domestik yang dinilai masih solid.
Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran instrumen moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah.
“Selain smart intervention, kami juga mengoptimalkan operasi moneter dengan seluruh instrumen yang kami miliki,” tutur Destry.
Upaya stabilisasi tersebut diperkuat dengan strategi dedolarisasi melalui peningkatan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT). Bank Indonesia mencatat volume transaksi LCT sepanjang 2025 meningkat signifikan hingga mencapai 25,66 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, BI juga memperluas pengembangan pasar non-dolar dengan membuka transaksi rupiah–yen bersama Jepang serta rupiah–renminbi (RMB) dengan Tiongkok. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















