Jakarta, Aktual.co — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), menyatakan ikan petani di keramba jaring apung Danau Maninjau, yang mati mendadak bertambah menjadi 220 ton.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Agam, Ermanto mengatakan 220 ton ikan ini tersebar di Nagari Maninjau, Bayua, Duo Koto, Koto Gadang dan Tanjung Sani yang berasal dari 201 petak keramba jaring apung milik 87 kepala keluarga.
“Kematian ikan ini berpindah, karena pada Minggu (28/12) dan Senin (29/12), ikan mati hanya di Bayua dan Maninjau,” tambahnya.
Akibat kematian ini, petani mengalami kerugian sekitar Rp6,6 miliar, karena harga ikan dipasaran sekitar Rp30.000 per kg.
Ermanto menambahkan, kematian ikan ini disebabkan oleh berkurangnya oksigen di perairan Danau Maninjau, akibat curah hujan tinggi melanda Kecamatan Tanjung Raya pada Kamis (25/12).
Untuk mengurangi kematian lebih banyak, petani diminta untuk melakukan panen dini, mengurangi tebar benih ikan, mengurangi pemberian pakan ikan dan lainnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam telah memberikan surat edaran agar mengurangi tebar benih pada Oktober 2014 sampai Januari 2014.
“Kami telah berulang kali untuk mengingatkan pembudi daya agar mengurangi tebar benih ikan, mengatur jarak antar keramba dan lainnya,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh:














