Jakarta, aktual.com – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia telah menetapkan awal bulan Syaban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Penetapan ini menjadi penanda dimulainya salah satu bulan penuh keutamaan dalam kalender Islam yang berada di antara dua bulan istimewa, yakni Rajab dan Ramadhan.
Syaban menjadi momentum krusial bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah Puasa Syaban, yang hukumnya sunnah dan memiliki keutamaan besar.
Bulan Syaban dikenal sebagai waktu pemanasan spiritual sebelum memasuki Ramadhan. Selain memperbanyak puasa sunnah, umat Muslim juga dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah lainnya seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbanyak doa dan istighfar.
Tata Cara Melaksanakan Puasa Syaban
Dilansir dari NU Online Lampung, tata cara Puasa Syaban diawali dengan niat yang dapat dilakukan pada malam hari hingga sebelum terbit fajar. Adapun bacaan niat Puasa Syaban sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
(Nawaitu shauma sya’bâna lilâhi ta’âlâ)
Artinya:
“Aku melaksanakan Puasa Syaban karena Allah ta’ala.”
Setelah niat, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan sahur. Waktu sahur yang paling utama adalah mendekati waktu imsak. Selanjutnya, menjalankan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Saat waktu maghrib tiba, disunnahkan untuk segera menyegerakan berbuka puasa (iftar).
Hukum dan Keutamaan Puasa Syaban
Puasa Syaban hukumnya sunnah, sebagaimana berdasarkan riwayat dari Aisyah RA dalam Hadits Riwayat Bukhari nomor 1833 dan Muslim nomor 1956. Aisyah RA menuturkan:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Syaban.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat mengistimewakan bulan Syaban dengan memperbanyak ibadah puasa.
Dikutip dari Muhammadiyah, bulan Syaban merupakan waktu di mana seluruh amal perbuatan manusia selama satu tahun diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menyukai berpuasa pada bulan ini karena beliau ingin ketika amalannya diangkat, beliau berada dalam keadaan beribadah.
Hal ini menunjukkan bahwa Puasa Syaban menjadi sarana untuk menutup catatan amal tahunan dengan ibadah terbaik. Selain itu, Puasa Syaban juga berfungsi sebagai latihan fisik dan spiritual sebelum memasuki kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Dengan terbiasa berpuasa sejak Syaban, tubuh dan jiwa akan lebih siap dalam menjalani ibadah puasa sebulan penuh.
Penetapan awal Syaban 1447 H oleh Kemenag ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk segera mempersiapkan diri, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental dan spiritual, agar dapat menyambut Ramadhan dengan kondisi iman yang lebih kuat dan optimal.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















