Davos, aktual.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk membuka dialog di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara. Washington, menurut Trump, siap merespons sinyal tersebut melalui jalur diplomatik.
Pernyataan itu disampaikan Trump di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1), dan mengindikasikan peluang dibukanya komunikasi politik setelah hubungan AS-Iran kembali memanas menyusul kerusuhan dalam unjuk rasa antipemerintah di Iran.
“Iran memang ingin berdialog, dan kami akan berdialog,” kata Trump saat menghadiri seremoni penandatanganan Piagam Dewan Perdamaian.
Meski membuka pintu dialog, Trump kembali menegaskan sikap keras AS terhadap program nuklir Iran. Ia mengingatkan bahwa Washington pernah melancarkan serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran pada tahun lalu demi mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.
“Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi,” tegasnya.
Sikap serupa juga disampaikan Trump sehari sebelumnya. Pada Rabu (21/1), ia mengaku berharap tidak ada lagi aksi militer AS terhadap Iran. Namun, peringatan tetap disampaikan jika Teheran melanjutkan program nuklirnya.
“Mereka tidak boleh menjalankan program nuklir. Jika mereka melakukannya, itu akan terjadi lagi,” ujar Trump dalam wawancara dengan CNBC di Davos, merujuk pada serangan udara besar-besaran AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Dalam eskalasi ketegangan sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman operasi militer apabila Iran merespons unjuk rasa dengan kekerasan mematikan. Namun, belakangan ia melunakkan nada pernyataannya dengan mengklaim bahwa Teheran menghentikan tindakan represif terhadap demonstran setelah peringatan dari Washington.
Pernyataan terbaru ini menandai perubahan pendekatan Trump yang mengombinasikan tekanan keras dengan peluang dialog, di tengah situasi geopolitik yang masih rapuh di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















