Jakarta, aktual.com – Keyakinan akan datangnya Hari Kiamat merupakan bagian mendasar dari keimanan setiap muslim. Pada hari itu, seluruh aktivitas dunia berakhir, manusia diliputi kebingungan, dan rasa takut menyelimuti seluruh makhluk. Dalam suasana yang sangat mencekam tersebut, setiap orang sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri tanpa lagi memperhatikan orang lain.
Al-Qur’an menggambarkan kondisi itu dengan sangat jelas:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34–36)
Namun, di tengah kondisi tersebut, umat manusia menantikan satu sosok yang diharapkan mampu menjadi penolong. Dialah Baginda Nabi Muhammad SAW yang kelak datang membawa syafaat bagi umat-umat yang dikehendaki Allah SWT.
Karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami bentuk-bentuk syafaat Rasulullah SAW sebagai bekal persiapan diri dan harapan untuk memperoleh pertolongan di Hari Akhir. Dalam kitab Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, dijelaskan bahwa syafaat Nabi Muhammad SAW pada Hari Kiamat memiliki beberapa bentuk.
Syafaat Terbesar Khusus untuk Rasulullah SAW
Syafaat pertama adalah syafaat al-‘uẓmā, syafaat terbesar yang hanya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan tidak dimiliki oleh nabi dan rasul lainnya. Dalilnya diriwayatkan secara sahih dalam Ash-Shahihain dari Jabir bin Abdullah. Rasulullah SAW bersabda:
“Aku diberi lima anugrah yang tidak diberikan kepada seorang pun Nabi sebelumku: Aku ditolong dengan ditimpakannya ketakutan (pada musuh) dalam jarak perjalanan satu bulan, tanah djadikan masjid untukku dan suci, ghanimah dihalalkan untukku padahal ia tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku, aku diberi syafaat, seorang nabi hanya diutus kepada kaumnya saja sedang aku diutus kepada seluruh manusia.”
Redaksi “Aku diberi syafaat” dalam hadis tersebut dimaknai sebagai syafaat terbesar, yaitu ketika Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT agar segera mengadili seluruh makhluk. Syafaat ini diharapkan oleh seluruh manusia, baik generasi awal maupun akhir, dan hanya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ragam Syafaat Rasulullah SAW
Selain syafaat terbesar, Rasulullah SAW juga memiliki beberapa bentuk syafaat lain, di antaranya:
- Syafaat bagi orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang, agar mereka dimasukkan ke dalam surga. Mereka sebelumnya berada di tempat bernama al-A‘rāf, sebagaimana firman Allah SWT:
وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ
- Syafaat bagi sebagian orang yang seharusnya masuk neraka, agar mereka tidak memasukinya.
- Syafaat untuk mengangkat derajat penghuni surga, melebihi kadar amal mereka.
- Syafaat bagi orang-orang yang masuk surga tanpa hisab.
- Syafaat untuk Abu Thalib, paman Rasulullah SAW, agar diringankan siksaannya. Dalam Shahih Muslim dari Abu Sa‘id al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda: “Mudah-mudahan syafaatku akan berguna baginya sehingga dia ditempatkan di tingkatan neraka yang paling atas di mana api hanya mencapai kedua mata kakinya yang menyebabkan otaknya mendidih.”
- Syafaat Rasulullah SAW sebagai orang pertama yang memberi syafaat di surga, sebagaimana sabdanya dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik: “Aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat di surga.”
- Syafaat bagi umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan dosa-dosa besar, yang masuk neraka karena dosa mereka, lalu dikeluarkan dari neraka dengan syafaat beliau.
Harapan dan Ikhtiar Seorang Muslim
Dari uraian tersebut, jelas bahwa Rasulullah SAW adalah teladan utama bagi seluruh manusia. Setiap perilakunya menjadi tuntunan, setiap ucapannya menjadi pedoman, dan setiap sikapnya menjadi suri teladan. Karena itu, sebagai muslim, sudah sepatutnya berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran beliau.
Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdoa dan berharap memperoleh syafaat Rasulullah SAW. Selama tidak terjerumus dalam dosa besar yang menghilangkan iman, setiap mukmin memiliki peluang mendapatkan syafaat tersebut. Bahkan, orang-orang beriman juga diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat kepada keluarga dan kerabatnya dengan izin-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ
“Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. al-Anbiya’: 28)
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















