Jakarta, Aktual.co — Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Pol Arthur Tampi mengatakan, Polri lebih memilih Surabaya sebagai pusat evakuasi korban pesawat Air Asia QZ 8501 dibandingkan harus mendirikan posko di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Menurut Arthur, hal tersebut dikarenakan pendirian pusat evakuasi di Surabaya dinilai lebih efektif ketimbang di Pangkalan Bun.
“Itu banyak sekali 160 orang lebih yang harus diidentifikasi, mesti ke Surabaya karena lebih sulit kalau di Kalteng,” kata Arthur di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12).
Arthur mengungkapkan, sumber daya manusia Pusdokkes Polri di Jawa Timur dinilai lebih memadai dan jumlah personelnya lebih banyak dari pada personel yang ada di Kalteng, sehingga dapat mempermudah proses identifikasi.
“Selain itu lemari pendingin untuk korban juga sudah tersedia di Surabaya,” ungkapnya.
Hampir semua korban, lanjut Arthur merupakan warga Surabaya dan sekitarnya sehingga dapat memudahkan pencarian data antemortem korban guna proses identifikasi. “Pertimbangan keluarga lebih banyak di sana (Surabaya) untuk kepentingan antemortem,” tutup Arthur.
Untuk diketahui, sejumlah serpihan dari pesawat Airbus 320-200 AirAsia QZ 8501 dipastikan telah ditemukan di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada hari ini, Selasa (30/12). Sebelumnya, Pesawat AirAsia QZ 8501 dalam rute perjalanan Surabaya menuju Singapura yang mengangkut 155 penumpang dan tujuh awak tersebut dinyatakan hilang dari Air Traffic Controller pada pukul 07:55 WIB, Minggu 28 Desember 2014.
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby

















