ilustrasi zona waktu - Aktual/shutterstock

Jakarta, aktual.com – Pernahkah Anda merasa hari baru saja dimulai, tetapi tiba-tiba sudah malam? Minggu terasa singkat, bulan berlalu tanpa terasa, bahkan tahun berganti seolah tanpa jeda. Fenomena ini kerap membuat banyak orang bertanya, mengapa waktu terasa semakin cepat, padahal jumlah jam dalam sehari tidak pernah berubah.

Dalam kajian psikologi dan ilmu kognitif, waktu tidak hanya dipahami sebagai ukuran objektif yang dihitung melalui jam dan kalender. Waktu juga merupakan pengalaman subjektif yang dipengaruhi oleh emosi, rutinitas, perhatian, serta kualitas interaksi sosial. Persepsi inilah yang membuat sebagian orang merasa waktu berlalu begitu cepat, sementara yang lain justru merasakannya lambat dan melelahkan.

Secara ilmiah, perasaan bahwa waktu terasa cepat berkaitan erat dengan cara otak memproses pengalaman. Ahli neurosains David Eagleman menjelaskan, otak manusia tidak merekam waktu secara langsung. Otak menyimpulkan durasi berdasarkan jumlah dan intensitas peristiwa yang dialami.

Ketika seseorang menjalani hari dengan aktivitas padat dan fokus tinggi, otak sibuk memproses tugas dan pengalaman. Akibatnya, waktu tidak menjadi pusat perhatian. Saat menoleh ke belakang, hari tersebut terasa singkat. Sebaliknya, ketika menunggu, bosan, atau tidak melakukan aktivitas berarti, perhatian justru tertuju pada waktu itu sendiri, sehingga durasinya terasa lebih panjang.

Fenomena ini sejalan dengan teori atensi dalam psikologi. Semakin besar keterlibatan seseorang dalam suatu aktivitas, semakin kecil kesadarannya terhadap waktu. Karena itu, waktu terasa cepat saat kita tenggelam dalam pekerjaan, hobi, atau percakapan yang menyenangkan.

Selain perhatian, rutinitas juga memainkan peran penting. Tokoh psikologi William James menyebutkan bahwa otak cenderung “mengaburkan” periode yang monoton. Aktivitas yang sama dari hari ke hari jarang menciptakan memori baru yang menandai perjalanan waktu. Akibatnya, ketika melihat ke belakang, minggu atau bulan terasa berlalu cepat karena sedikit peristiwa yang dianggap signifikan.

Inilah sebabnya banyak orang merasa satu tahun berlalu begitu cepat, meskipun setiap hari dijalani dengan pola yang relatif sama.

Persepsi waktu juga berubah seiring bertambahnya usia. Banyak orang merasa waktu berjalan lebih cepat saat dewasa dibandingkan ketika masih anak-anak. Fenomena ini berkaitan dengan proporsi hidup yang telah dijalani. Semakin tua, satu tahun hanya mewakili bagian kecil dari keseluruhan usia, sehingga terasa lebih singkat.

Peneliti dari Duke University, Adrian Bejan, menambahkan bahwa kecepatan pemrosesan visual dan kognitif menurun seiring usia. Orang dewasa memproses lebih sedikit rangsangan baru dibandingkan anak-anak. Minimnya pengalaman pertama atau novelty membuat kehidupan dewasa lebih rutin dan berulang, sehingga waktu terasa semakin cepat berlalu.

Tak hanya itu, banyak orang merasakan waktu terasa lebih cepat ketika dihabiskan bersama seseorang, terutama dengan orang yang memiliki kedekatan emosional. Hal ini dapat dijelaskan melalui peran emosi positif dan kualitas interaksi sosial.

Psikolog sosial Arthur Aron menyebutkan bahwa interaksi yang melibatkan empati, keterbukaan, dan perhatian timbal balik meningkatkan keterlibatan kognitif. Saat perhatian terfokus pada percakapan dan emosi, kesadaran terhadap waktu menurun. Momen kebersamaan terasa singkat saat berlangsung, tetapi justru terasa bermakna ketika dikenang.

Lalu, apa makna di balik perasaan bahwa waktu semakin cepat berlalu? Dari sudut pandang psikologi positif, hal ini sering dikaitkan dengan keterlibatan penuh dalam aktivitas bermakna. Mihaly Csikszentmihalyi menyebut kondisi ini sebagai flow, yaitu saat seseorang begitu larut dalam kegiatan hingga kehilangan kesadaran akan waktu.

Namun, persepsi waktu yang cepat tidak selalu berarti positif. Dalam beberapa kasus, hal ini justru bisa menjadi tanda bahwa hidup terlalu rutin dan dijalani secara otomatis. Hari-hari berlalu tanpa meninggalkan jejak emosional yang kuat.

Dengan kata lain, waktu yang terasa cepat bisa mencerminkan dua hal sekaligus: kepuasan karena terlibat dalam aktivitas bermakna, atau peringatan bahwa hidup sedang berjalan monoton. Menyadari cara kita memandang waktu dapat menjadi langkah awal untuk merancang kehidupan yang lebih sadar, lebih kaya pengalaman, dan lebih bermakna.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano