Jakarta, Aktual.co — Dalam pembangunan fisik kota mengakibatkan daerah kedap air semakin luas sehingga curah hujan yang jatuh tidak bisa diserap ke dalam tanah dan menjadi aliran permukaan. Semakin luas daerah kedap air, semakin luas wilayah yang dilanda banjir.
Perkembangan fisik kota yang cepat dengan curah hujan yang konstan setiap bulannya menyebabkan sarana drainase Jakarta tidak mampu menampung hujan lokal dan pembuangan air dari pemukiman dan kantor-kantor. Selain itu, akumulasi dari faktor-faktor penyebab banjir seperti pemukiman di bantaran sungai dan kebiasaan masyarakat membuang sampah di sembarang tempat telah mempercepat proses sedimentasi dan pendangkalan sungai.
Dalam kondisi banjir, respon masyarakat Jakarta terbagi dalam tiga kelompok. Pertama adalah masyarakat yang terkena musibah banjir. Mereka biasanya direpotkan untuk mencari tempat pengungsian sementara. Mereka ini biasanya tinggal di daerah bantaran sungai atau daerah yang lebih rendah sehingga aktivitas mencari tempat pengungsian merupakan rutinitas tahunan.
Kedua adalah masyarakat yang tidak terkena banjir, tetapi mempunyai kepedulian terhadap warga yang terkena banjir, seperti yang dilakukan oleh para dermawan yang memberikan bantuan makanan dan obat-obatan kepada warga sekitarnya untuk meringankan beban warga yang terkena musibah.
Ketiga adalah masyarakat yang tidak terkena banjir. Mereka tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tidak peduli terhadap keadaan lingkungannya.
Selain masyarakat yang secara spontanitas melakukan reaksi pada waktu musibah datang, pemerintah yang berada dalam struktur yang lebih kuat juga melakukan aktivitas untuk menolong masyarakat dengan mendirikan pos-pos pengungsian dan memberikan bantuan. Dalam rangka pengendalian banjir, pemerintah cenderung melakukan tindakan yang diulang-ulang seperti mengadakan diskusi dan menyusun perencanaan pengendalian banjir.
Banjir di Jakarta mengalami perluasan wilayah dan juga penyingkatan siklus. Awalnya pada periode 1892 sampai 1950, banjir di Jakarta memiliki siklus 5-10 tahun. Pada periode 1950-1970, memiliki siklus 3-5 tahun. Dan saat ini menyempit menjadi 1 sampai 2 tahun.
Luas wilayah yang terkena banjir pun mengalami perluasan. Biasanya banjir hanya melanda daerah Glodok, Weltevreden dan Senen. Namun saat ini banjir hampir melanda seluruh bagian Jakarta seperti Tanah Abang, Pejambon, Kemayoran, Kampung Melayu dan daerah sekitar Manggarai dan Bukit Duri.
Artikel ini ditulis oleh:
Andy Abdul Hamid

















