Washington DC, aktual.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mengkaji sejumlah opsi dalam menyikapi situasi di Iran. Salah satu skenario yang dipertimbangkan mencakup serangan terarah terhadap aparat keamanan serta figur-figur pimpinan Iran, dengan tujuan memicu keberanian demonstran.
Pertimbangan tersebut, seperti dilaporkan Reuters dan Al Arabiya pada Jumat (30/1/2026), diungkapkan oleh sejumlah sumber yang dikutip Reuters dalam laporan Kamis (29/1) waktu setempat.
Sejumlah pejabat regional di Timur Tengah, secara terpisah, menilai kekuatan udara semata tidak cukup untuk menggulingkan pemerintahan ulama yang telah lama berkuasa di Iran.
Dua sumber pemerintah AS yang mengetahui pembahasan internal mengatakan kepada Reuters bahwa Trump ingin menciptakan kondisi bagi “perubahan rezim”, menyusul penindakan keras terhadap gelombang demonstrasi yang menewaskan ribuan orang di berbagai wilayah Iran pada awal bulan ini.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, menurut kedua sumber itu, Trump menimbang opsi menyerang komandan serta institusi Iran yang dinilai AS paling bertanggung jawab atas kekerasan terhadap para demonstran. Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan publik bahwa gedung-gedung pemerintahan dan keamanan dapat dikuasai.
Trump, kata salah satu sumber dan seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, belum mengambil keputusan final terkait langkah yang akan ditempuh terhadap Iran, termasuk kemungkinan jalur militer.
Sumber lain dari kalangan pemerintahan AS yang dikutip Reuters menyebut, opsi yang dibahas para penasihat Trump juga mencakup serangan berskala lebih besar untuk memberi dampak jangka panjang, termasuk terhadap kemampuan rudal Teheran yang mampu menjangkau sekutu AS di Timur Tengah atau terhadap program pengayaan nuklir Iran.
Hingga kini, Iran enggan bernegosiasi soal pembatasan rudal, yang dipandang negara itu sebagai satu-satunya alat pencegah terhadap Israel.
Kehadiran kapal induk AS beserta kapal-kapal pendukung di Timur Tengah pekan ini memperluas opsi Trump untuk melakukan tindakan militer, setelah berulang kali melontarkan ancaman intervensi menyusul tindakan keras Iran terhadap demonstran.
Namun, sejumlah pejabat regional dan Barat—yang pemerintahannya telah menerima pengarahan mengenai diskusi di Gedung Putih—mengkhawatirkan serangan AS justru tidak mendorong warga Iran kembali turun ke jalan, melainkan melemahkan gerakan protes yang menguat pascapenindasan berdarah.
Direktur Program Iran pada Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai tanpa pembelotan militer berskala besar, unjuk rasa di Iran tetap “heroik tetapi kalah persenjataan”.
Sementara itu, seorang sumber Barat meyakini tujuan Trump lebih mengarah pada pemicu perubahan kepemimpinan ketimbang “menggulingkan rezim” secara menyeluruh. Situasi ini disamakan dengan Venezuela, ketika intervensi AS mengganti presiden tanpa merombak keseluruhan pemerintahan.
Dalam sidang Senat AS yang membahas Venezuela pada Rabu (28/1), Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan “harapan” terjadinya transisi serupa jika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, lengser—seraya mengakui kompleksitas situasi di Iran. Rubio juga mengakui belum mengetahui secara pasti siapa yang akan mengambil alih jika Khamenei kehilangan kekuasaan.
Terlepas dari itu, para pejabat AS berpendapat transisi di Iran berpotensi memecah kebuntuan nuklir dan membuka peluang kerja sama yang lebih erat dengan Barat. Namun, terdapat peringatan mengenai ketiadaan penerus yang jelas bagi Khamenei.
Jika terjadi kekosongan kekuasaan, Garda Revolusi Iran diyakini dapat mengambil alih, memperkuat pemerintahan garis keras, serta memperdalam kebuntuan nuklir dan ketegangan kawasan.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain








![Kasus WNI Anak di Yordania, Kemlu Intensifkan Upaya Pemulangan Polisi Yordania di dekat perbatasan dengan Israel pada 21 Mei 2021 di al-Karama, Yordania. [Jordan Pix/Getty Images]](https://aktual.com/wp-content/uploads/2025/12/Anak-WNI-Di-Bawah-Umur-238x178.png)








