Jakarta, Aktual.com – Peneliti Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), A. Hakam Naja, menyebut ekonomi syariah ditargetkan menyumbang 47 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2024, meski tantangan implementasi kebijakan masih membayangi. Target tersebut dinilai realistis dari sisi potensi, tetapi menuntut konsistensi eksekusi lintas sektor.
“Besarnya populasi Muslim dunia mendorong lonjakan nilai ekonomi halal global di sektor makanan, fesyen, hingga keuangan. Konsumsi halal dunia sudah bernilai triliunan dolar AS dan terus tumbuh setiap tahun,” ucap Hakam.
Ia menilai posisi Indonesia di tingkat global cukup kompetitif, terutama pada sektor fesyen Muslim, pariwisata ramah Muslim, serta farmasi dan kosmetik. Namun, kinerja ekspor halal nasional masih tertinggal karena Indonesia lebih dominan sebagai negara pengimpor di antara negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Selain itu, peningkatan kontribusi ekonomi syariah terhadap PDB belum diiringi dengan literasi dan inklusi keuangan yang seimbang. Kesenjangan antara pemahaman dan akses layanan syariah masih menjadi penghambat penguatan ekosistem.
Di sektor keuangan, aset perbankan dan pasar modal syariah terus tumbuh meski pangsa pasarnya masih terbatas. “Penyelesaian persoalan pembiayaan digital syariah bermasalah penting agar kepercayaan publik terhadap keuangan syariah tidak tergerus,” katanya.
Lebih lanjut, Hakam menekankan perlunya koordinasi kebijakan lintas kementerian untuk menyatukan sektor keuangan, industri halal, dan UMKM. Tanpa orkestrasi yang kuat, lanjutnya, potensi besar ekonomi syariah berisiko tidak memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















