Jakarta, aktual.com – Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah memaparkan sejumlah faktor strategis Iran sulit untuk diusik atau dihancurkan oleh militer negara mana pun, termasuk Amerika Serikat (AS).
“Iran tidak mudah digoyahkan apalagi dihancurkan,” kata Reza dalam webinar Global Insight Forum bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenlad : ‘Siapa’ Target Selanjutnya”, yang dipantau secara daring di Jakarta, Sabtu (31/1).
Reza mengatakan alasan pertama yakni, Iran merupakan salah satu pusat peradaban awal, seperti halnya China, India, dan Romawi. Kesadaran historis ini menumbuhkan semangat besar untuk menjaga marwah bangsa, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.
Alasan kedua, kepemimpinan Iran relatif dihormati dan dicintai oleh masyarakatnya karena dianggap menunjukkan keteladanan ideologis serta berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat dalam kerangka kemandirian nasional dan perlawanan terhadap dominasi asing.
Ketiga, Iran memiliki kekuatan militer yang mandiri dan autentik, dengan teknologi pertahanan yang dikembangkan di dalam negeri tanpa ketergantungan signifikan pada pihak luar.
“Karena itu, peluru kendali, telah disiapkan untuk berbagai jarak—pendek, menengah, hingga jauh—termasuk untuk menghadapi kapal induk di kawasan Timur Tengah. Sementara, Angkatan Laut Iran juga rutin menggelar latihan di perairan strategis,” kata Reza, yang juga selaku Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF).
Menurutnya, dalam skenario konflik terbuka, Iran berpotensi melakukan blokade Selat Hormuz yang akan berdampak besar terhadap lalu lintas energi dan perdagangan global.
“Jika Amerika Serikat menyerang Iran, langkah ini (blokade) sangat mungkin dilakukan,” katanya melanjutkan.
Keempat, negara-negara Teluk berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan pembalasan Iran. Jika Iran diserang, respons balasan dapat berupa peluncuran misil dalam jumlah besar yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Pengalaman konflik sebelumnya menunjukkan bahwa dalam perang singkat di masa lalu, kota-kota besar Israel mengalami kerusakan signifikan dan hanya mampu bertahan setelah keterlibatan langsung Amerika Serikat.
“Saat ini, Iran disebut memiliki stok peluru kendali dalam jumlah sangat besar,” katanya.
Reza menambahkan bahwa alasan kelima, yakni adanya keengganan serius negara-negara NATO untuk mendukung serangan langsung terhadap Iran.
“NATO dinilai telah belajar dari AS yang juga menggunakan tekanan ekonomi sebagai alat geopolitik,” ucapnya.
Alasan terakhir, yakni Iran memiliki kemampuan intelijen yang kuat dalam mendeteksi, menyisir, dan menindak jaringan lawan, baik di dalam maupun di luar negeri dan ketegasan dalam menghukum agen dan simpatisan asing menjadi faktor pencegah signifikan.
Dengan demikian, katanya, diperkirakan AS hanya melakukan serangan kecil atas Iran sebelum 11 Februari, dan sesudahnya menyatakan diri sebagai pemenang, sekadar untuk menjaga citra di panggung internasional.
Sebelumnya pada 22 Januari, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan kembali program nuklir, seraya menegaskan bahwa pelanggaran itu dapat memicu tindakan militer.
Trump mengatakan Washington akan memastikan posisi Teheran saat ini terkait aktivitas nuklir dan tidak akan menoleransi upaya apa pun untuk mengembangkan senjata nuklir.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain










![Kasus WNI Anak di Yordania, Kemlu Intensifkan Upaya Pemulangan Polisi Yordania di dekat perbatasan dengan Israel pada 21 Mei 2021 di al-Karama, Yordania. [Jordan Pix/Getty Images]](https://aktual.com/wp-content/uploads/2025/12/Anak-WNI-Di-Bawah-Umur-238x178.png)






