Jakarta, aktual.com – Bulan Sya’ban dikenal sebagai bulan istimewa yang dinisbatkan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Keutamaan ini antara lain ditandai dengan turunnya ayat yang menyeru kaum beriman untuk bershalawat kepada Rasulullah ﷺ. Ayat tersebut sekaligus menegaskan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ, karena bukan hanya umat manusia yang diperintahkan bershalawat, melainkan Allah ﷻ dan para malaikat-Nya turut bershalawat kepada beliau.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab: 56)

Dari ayat tersebut, Sya’ban dipahami sebagai bulan yang memiliki kedudukan khusus, tidak hanya bagi Rasulullah ﷺ, tetapi juga bagi umatnya. Berbagai peristiwa besar yang terjadi di bulan ini mengandung pelajaran penting yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin.

Salah satu peristiwa agung yang dikaitkan dengan malam Nisfu Sya’ban adalah mukjizat terbelahnya bulan. Peristiwa itu terjadi ketika sebagian kaum Quraisy di Makkah meminta Nabi Muhammad ﷺ menunjukkan tanda kenabian. Atas izin Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ memperlihatkan mukjizat tersebut secara langsung di hadapan mereka, sehingga menjadi salah satu keistimewaan malam Nisfu Sya’ban.

Selain itu, malam Nisfu Sya’ban juga dikaitkan dengan peristiwa penting lain, yakni pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis (Masjid Al Aqsa) menuju Masjidilharam. Pada masa awal pensyariatan shalat, umat Islam menghadap Baitul Maqdis selama sekitar tujuh belas bulan. Kemudian, Allah ﷻ mengabulkan doa Rasulullah ﷺ untuk berpaling ke kiblat yang beliau ridai, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 144)

Peristiwa pemindahan kiblat ini mengandung hikmah mendalam. Pada satu sisi, berkiblat ke Baitul Maqdis di awal Islam menunjukkan sikap menghormati tradisi para nabi terdahulu dan menjadi sarana mendekatkan hati kaum Ahlul Kitab. Namun, perpindahan kiblat ke Masjidilharam menegaskan identitas dan keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ, sekaligus menunjukkan kedudukan agung Rasulullah ﷺ di sisi Allah ﷻ, karena kiblat dipindahkan ke arah yang beliau ridhai.

Malam Nisfu Sya’ban juga diyakini sebagai waktu diangkatnya catatan amal manusia selama setahun, serta ditetapkannya takdir untuk satu tahun ke depan. Karena itu, banyak ulama dan orang-orang saleh menganjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan amal ketaatan, istighfar, dan doa, agar amal yang diangkat ditutup dengan kebaikan dan takdir yang dicatat dipenuhi keberkahan.

Keistimewaan Nisfu Sya’ban juga dikenal sebagai malam pengampunan dosa. Pada malam ini, pintu rahmat dan ampunan Allah ﷻ terbuka luas bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat, sekalipun mereka pernah bergelimang dosa.

Dengan memahami keutamaan bulan Sya’ban dan malam Nisfu Sya’ban, umat Islam diharapkan semakin menumbuhkan rasa cinta dan rindu kepada Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ, serta memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal menuju ridha-Nya, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain