Jakarta, Aktual.com — Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengungkapkan, nilai tukar nelayan naik 2,51 persen pada Januari 2026, sementara nilai tukar petani justru mengalami penurunan. Data tersebut mencerminkan perbedaan kondisi ekonomi yang tajam antara sektor perikanan dan pertanian di awal tahun.
“Indeks harga yang diterima nelayan naik 2,24 persen, sementara indeks harga yang dibayar turun 0,26 persen,” ungkap Ateng saat ditemui di Kantor BPS RI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, sejumlah komoditas perikanan menjadi pendorong utama perbaikan tersebut. Ikan cakalang, layang, tongkol, kembung, dan cumi-cumi memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan pendapatan nelayan.
Sebaliknya, sektor pertanian menghadapi tekanan pada periode yang sama. Nilai Tukar Petani (NTP) Januari 2026 tercatat sebesar 123,60 atau turun 1,40 persen dibandingkan Desember 2025.
“Indeks harga yang diterima petani turun 1,85 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar hanya turun 0,45 persen,” kata Ateng.
Lebih lanjut, Ateng menyampaikan tekanan paling besar dirasakan subsektor hortikultura akibat melimpahnya pasokan setelah panen raya di berbagai sentra produksi. BPS mencatat NTP hortikultura merosot hingga 13,76 persen, terutama dipicu turunnya harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah.
Di tengah penurunan pendapatan petani, harga beras justru menunjukkan kecenderungan naik pada Januari 2026. Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan meningkat 0,75 persen secara bulanan dan 6,19 persen secara tahunan, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada beras premium.
Kondisi petani semakin tertekan oleh faktor cuaca pada akhir 2025. “Curah hujan yang tinggi menyebabkan sebagian lahan pertanian tergenang, menghambat aktivitas tanam dan panen, serta membatasi peluang pemulihan ekonomi petani pada awal 2026,” tuturnya.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















