Jakarta, Aktual.co —Selain persoalan buruknya sistem drainase, banyak beralihnya lahan di bantaran sungai jadi pemukiman padat penduduk dianggap jadi salah satu penyebab banjir di Jakarta. 
Akibatnya, wilayah bantaran sungai jadi titik rawan utama bencana banjir.
“Terutama yang mengalami pendangkalan dan penyempitan karena semakin banyaknya sedimentasi juga sampah,” ujar pengamat perkotaan Yayat Supriatna, ketika dihubungi Senin (29/12).
Padahal kawasan tersebut terlarang untuk dibangun tempat tinggal. Meski dilarang, kenyataannya masih banyak penduduk yang nekat membangun tempat tinggal sekedarnya di kawasan bantaran sungai. Alasannya, faktor ekonomi.
“Lihat saja contohnya seperti di Kampung Pulo itu banjirnya sudah lama terjadi tetapi kali ini semakin parah karena penduduk yang tinggal di situ juga semakin banyak,” kata Yayat.
Daerah rawan banjir lainnya, menurut Yayat, adalah daerah yang memiliki sistem drainase buruk karena turunnya permukaan tanah. Contoh, kasus di perumahan Green Garden.
“Itu menunjukan betapa buruknya sistem drainase Jakarta yang menyebabkan air semakin lama tergenang,” ujarnya.
Kondisi itu diperparah dengan pengambilan air tanah di Jakarta secara berlebihan. Sehingga mempercepat penurunan tanah Jakarta. Akibatnya, wilayah rawan banjir semakin banyak.
Yayat menyarankan perlu dibuat folder sebagai wadah penampung air. “Karena sungai itu atau drainase semakin rendah dibanding permukaan air laut.”
Pemprov DKI juga disarankan untuk berdialog dengan penduduk bantaran sungai agar bersedia dipindah dari bantaran sungai, selain melakukan proyek normalisasi sungai. 
“Normalisasi sungai bisa dilakukan dengan perkiraan lebar sungai 50-70 meter dan kedalaman setidaknya lima meter,” lanjutnya.
Diketahui, Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan berbagai upaya untuk mensterilkan kawasan bantaran sungai dari pemukiman penduduk. Namun karena alasan lokasi strategis dekat dengan pasar, membuat penduduk enggan pindah dan memilih tetap tinggal di bantaran kali.

Artikel ini ditulis oleh: