Jakarta, Aktual.co — Tepat sudah 11 tahun meninggalnya seorang Jurnalis bernama Ersa Siregar yang gugur dalam tugasnya di kota Aceh pada tanggal 29 Desember 2013. Sebelumnya, pada 1 Juli 2003, Ersa dan juru kamera Ferry Santoro dilaporkan hilang di Kuala Langsa, Aceh Timur.
Pada 5 Juli, mobil Kijang yang dipakai Ersa, dan kawan-kawan, ditemukan di Langsa, Aceh Timur, yang dikenal sebagai basis GAM. Dan pada tanggal 29 Desember 2003 lalu, pria kelahiran Brastagi, 4 Desember 1951 tersebut ditemukan tewas pasca kontak senjata antara pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan pasukan TNI Yonif Marinir VI, di sungai Malehen, Simpang Ulim, Aceh Timur, sekitar pukul 12.30 WIB.
Ersa tewas akibat dua tembakan di tubuhnya, yakni di leher yang tembus hingga ke tangan kanan dan dada yang tembus ke punggung. Sebelumnya, pria yang berstatus pegawai RCTI sejak 18 Agustus 1993 tersebut menjadi sandera GAM sejak 29 Juni 2003, bersama kameramen RCTI Ferry Santoro dan sopir RCTI Rahmatsyah. Namun keduanya berhasil diamankan TNI.
Meninggalnya Ersa saat itu melengkapi masa suram kebebasan pers di Indonesia, yang masih dihadapkan serangkaian kasus gugatan terhadap institusi penerbitan pers beserta aksi-aksi premanisme yang masih sering terjadi hingga saat ini.
Medan perang memang menjadi pilihan yang sulit, bagi seorang jurnalis untuk meliputnya. Saat berada di medan perang, seorang jurnalis harus berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya. Lantaran tak ada yang memberikan jaminan, pihak-pihak yang bertikai akan mentaati konvensi internasional tentang perlindungan Jurnalis saat melakukan peliputan perang.
Namun, bagi seorang Jurnalis sejati seperti Ersa Siregar, hal tersebut bukanlah menjadi halangan untuknya mendapatkan informasi-informasi yang akan disajikan ke publik.
Dengan keberanian tersebut, Ersa pun bisa membangun akses ke kedua belah pihak yang bertikai. Hingga pada akhirnya risiko terburuk pun harus dihadapinya. Kepergian Ersa mungkin akan menjadi pengorbanan tertinggi dalam profesi sebagai Jurnalis, yakni meninggal saat menjalankan tugas jurnalistik.
Mengenai Ersa Siregar, sebelumnya ia pernah di TVRI dan pernah menjadi pembaca berita di Dunia Dalam Berita antara tahun 1978 sampai dengan tahun 1993, Ersa juga pernah berkarier di PT. Fesda, PT. Satmarindo, Majalah Suasana dan Majalah Keluarga.
Di RCTI, Ersa mengawali kariernya sebagai penerjemah/produser, lalu berubah menjadi koordinator daerah, lantas koordinator liputan (korlip) pariwisata, lifestyle dan entertainment, Koordinator Bidang Hukum dan Kriminal kota, dan mulai 16 November 2001 hingga tewas tertembak, posisinya adalah sebagai Koordinator Liputan.
Artikel ini ditulis oleh:

















