Jakarta, Aktual.co — Usulan mengejutkan datang dari Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM)yang diketuai oleh Faisal Basri yaitu ingin menghapus RON 88 (premium) dan menggantikannya dengan RON 92 (pertamax).
Faisal Basri seakan tidak memiliki sensitifitas kerakyatan. Saat ini rakyat masih terpuruk akibat kenaikan BBM. Harga-harga kebutuhan pokok juga masih membumbung tinggi. 
Demikian disampaikan Sya’roni, Sekjen HUMANIKA, dalam siaran pers yang diterima Aktual.co, Senin (29/12). 
“Awalnya rakyat antusias dengan penunjukkan Faisal Basri sebagai Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM). Bahkan waktu pembentukan tim tersebut, dengan bangganya Menteri ESDM Sudirman Said mengumumkan diantara kerja utama tim tersebut adalah memberantas mafia minyak,” ujarnya. 
Namun semuanya itu kini hanya harapan kosong. Dengan akan dihapuskannya premium, rakyat harus siap-siap menerima harga minyak yang lebih mahal lagi. 
“Tim kebanggaan Menteri ESDM Sudirman Said terbukti gagal membongkar mafia minyak. Tim tersebut telah berubah fungsi menjadi marketing neolib yang menggelar karpet merah kepada SPBU-SPBU asing untuk melindas SPBU Pertamina,” sergahnya.
Tidak hanya itu, penghapusan premium juga akan dipastikan meningkatkan impor RON 92 karena Pertamina belum mampu memproduksinya sesuai kebutuhan. Dan meningkatnya impor dipastikan akan menguntungkan mafia minyak.
Selain itu, SPBU-SPBU asing juga akan semakin merajalela, karena persaingan dengan SPBU Pertamina telah dibuka selebar-lebarnya. Karena SPBU Pertamina sudah tidak memiliki Premium yang selama ini menjadi momok bagi SPBU asing.
Dan yang paling menyedihkan, dengan dialihkannya subsidi dari Premium ke Pertamax, mobil-mobil mewah dan super mewah yang tadinya tidak mencicipi minyak subsidi, nantinya akan menikmati subsidi dari negara. Lagi-lagi subsidi akan dinikmati orang kaya.
“Untuk itu, usulan penghapusan premium harus ditolak. Yang patut dihapus adalah Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM),” demikian Sya’roni.

Artikel ini ditulis oleh: