Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena. Aktual/HO

Kupang, aktual.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menyatakan keluarga bocah sekolah dasar yang meninggal dunia akibat bunuh diri di Kabupaten Ngada tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.

Melki menjelaskan, hal tersebut disebabkan persoalan administrasi kependudukan keluarga korban yang belum tertata dengan baik setelah berpindah domisili.

“Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang. Dia pindah dari Nagekeo ke Jerebuu, ternyata administrasi kependudukannya belum diamankan,” kata Melki di Kupang, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan Melki saat menanggapi informasi bahwa orang tua korban tidak terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.

Ia pun meminta pemerintah daerah setempat segera menyelesaikan persoalan administrasi tersebut. Menurutnya, masalah itu seharusnya dapat ditangani dengan cepat karena hanya menyangkut kelengkapan dokumen.

“Ini kan cuma soal kertas selembar. Segera dibereskan. Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi,” ujarnya.

Meski demikian, Melki menegaskan dirinya tidak ingin menyalahkan pihak mana pun atas tidak diterimanya bantuan sosial oleh keluarga korban. Ia lebih menekankan pentingnya pembenahan data agar kejadian serupa tidak terulang.

Ia juga memerintahkan seluruh kepala daerah di NTT untuk melakukan pendataan ulang secara menyeluruh terhadap keluarga miskin yang layak menerima bantuan sosial, tidak hanya di Kabupaten Ngada.

“Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Semua kepala daerah harus benar-benar memastikan data warga miskin yang berhak menerima bantuan itu akurat,” katanya.

Selain itu, Melki menyebut pemerintah daerah telah berdiskusi untuk memberikan bantuan lanjutan kepada keluarga korban, termasuk membangun rumah layak huni serta bantuan material lainnya.

Sebelumnya, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. Korban diketahui meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).

Dalam surat tersebut, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan pesan perpisahan kepada sang ibu.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Sementara ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano