Jakarta, Aktual.com – Pengembangan bensin berbasis sawit di Indonesia masih berhenti pada tahap proyek percontohan meski teknologi dan bahan bakunya dinilai telah siap. Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menyatakan hambatan utama justru berasal dari faktor politik dan kepentingan impor energi fosil.

Dalam media briefing Sawit Indonesia bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Selasa (10/2/2026), Tungkot menegaskan bahwa riset bensin sawit bukan lagi persoalan. “Masalahnya bukan di teknologi, tetapi ada kepentingan besar dalam impor bensin sehingga secara politik ini tidak mudah didorong,” ujarnya.

Pakar kebijakan sawit itu menjelaskan penelitian bensin sawit telah dibiayai dan dikerjakan oleh perguruan tinggi sejak beberapa tahun lalu. Saat ini, menurut dia, pengembangannya sudah berada pada tahap uji coba skala percontohan dan menunggu keputusan untuk masuk ke fase industri.

Berdasarkan catatan PASPI, konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 45 juta kiloliter per tahun dan sebagian besar masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut membuat upaya substitusi bensin fosil dengan bensin sawit bersinggungan langsung dengan kepentingan bisnis energi konvensional.

Ia membandingkan situasi bensin sawit dengan pengembangan biodiesel berbasis sawit yang lebih dahulu mendapat dukungan kebijakan. “Biodiesel bisa berjalan karena ada mandat pemerintah yang jelas dan konsisten, sementara bensin sawit belum mendapatkan keberpihakan yang sama,” kata Tungkot.

Sebagai informasi, biodiesel merupakan bahan bakar nabati yang diproduksi dari minyak sawit dan dicampurkan ke solar fosil melalui kebijakan mandatori. Indonesia saat ini menerapkan campuran biodiesel dalam skema B30 hingga B40 untuk sektor transportasi dan industri.

Lebih lanjut, Tungkot menilai keberhasilan biodiesel seharusnya menjadi preseden bagi pengembangan bensin sawit. Tanpa keberanian politik yang setara, ia memperkirakan bensin sawit akan terus tertahan sebagai proyek percontohan meski manfaat ekonominya dinilai besar.

“Arah kebijakan kini sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Jika ada keputusan politik yang tegas, bensin sawit bisa menjadi terobosan energi nasional seperti biodiesel, bukan sekadar proyek percontohan,” jelasnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi