Jakarta, Aktual.com – Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Zaid Burhan Ibrahim mengatakan BPDP menargetkan peremajaan sawit rakyat (PSR) seluas 50 ribu hektare pada 2026. Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan produktivitas kebun petani tanpa menambah luas lahan.
“Target kami tahun ini 50 ribu hektare, tetapi jika usulan masuk lebih besar dan sudah ada rekomendasi teknis dari Kementerian Pertanian, dananya tetap kami siapkan,” kata Zaid dalam media briefing di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurut manajemen BPDP, program PSR menjadi prioritas karena sebagian besar kebun sawit rakyat sudah memasuki usia tua dan tidak lagi produktif. Fokus pada sektor hulu tersebut disebut sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap pekebun sawit rakyat.
Dana program PSR, kata Zaid, bersumber dari pungutan industri sawit yang dikelola BPDP dan dikembalikan ke sektor perkebunan rakyat. “Bantuan ini berbentuk hibah, bukan pinjaman, sehingga tidak perlu dikembalikan oleh petani,” ucapnya.
Sepanjang 2025, realisasi peremajaan sawit rakyat tercatat sekitar 42 ribu hektare. BPDP menilai angka tersebut masih dapat ditingkatkan mengingat potensi lahan sawit rakyat yang perlu diremajakan diperkirakan mencapai dua juta hektare.
Selain replanting, lembaga ini juga mendorong peningkatan produktivitas melalui penggunaan bibit terstandar, pelatihan petani, serta bantuan sarana dan prasarana kebun. Zaid menyebut kebun sawit rakyat yang diremajakan mampu menghasilkan hingga 30–33 ton tandan buah segar per hektare per tahun, jauh di atas kebun lama yang masih di bawah 20 ton.
Upaya peningkatan produktivitas dinilai penting untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari Malaysia. Data BPDP menunjukkan produktivitas sawit Indonesia pada 2025 sebesar 3,61 metrik ton per hektare per tahun, masih di bawah Malaysia yang mencapai 4,02 metrik ton.
Ke depan, BPDP memastikan program peremajaan sawit rakyat dan dukungan biodiesel tetap berjalan sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024. “Dengan produktivitas yang meningkat dan harga yang lebih stabil, saya berharap kesejahteraan petani sawit rakyat dan kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian nasional semakin menguat,” tutur Zaid.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















