Jakarta, Aktual.co — PT Pertamina (Persero) menargetkan mulai mengoperasikan kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) tahap I pada Juli 2015 sehingga BUMN ini mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).
“Kilang ini akan mampu memproduksi bahan bakar gasoline setara RON 92 atau pertamax,” kata Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi kepada pers di Jakarta, Selasa (5/5) malam.
Rachmad Hardadi mengatakan kilang yang berlokasi di Cilacap tersebut selanjutnya mampu beroperasi dengan kapasitas maksimal pada Agustus 2015.
Menurut Rachmad Hardadi, pengoperasian RFCC sekaligus mampu meningkatkan kapasitas produksi BBM RON 92 di unit pengolahan minyak mentah Cilacap dan mengurangi impor HOMC (BBM berkadar RON tinggi).
“Selain itu kilang RFCC bisa meningkatkan produksi elpiji nasional, menambah produk bahan bakar minyak serta meningkatkan marjin kilang,” ujarnya.
Kapasitas kilang RFCC saat ini masing-masing untuk pertamax 62.000 barel per hari (bph), elpiji 10 ribu bph elpiji dan propylene empat-lima ribu bph. Dengan tambahan tersebut, total kapasitas kilang Pertamina di Unit Refinery IV Cilacap akan naik dari 350 ribu bph menjadi 412 ribu Bph.
Pemasangan tiang pancang pertama (groundbreaking) proyek RFCC dilakukan pada November 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan nilai investasi 1,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Rachmad lebih lanjut mengatakan untuk menekan impor BBM, Pertamina juga berencana melakukan percepatan pembangunan tiga kilang baru New Grass Root Refinery (NGRR).
“Melalui akselerasi, kilang NGRR bisa beroperasi tiga tahun lebih cepat atau dari rencana semula tahun 2022 menjadi 2019,” katanya.
Pihaknya juga telah meminta dukungan dari pemerintah antara lain soal regulasi pengadaan barang dan jasa oleh Pertamina serta pelaksana pembangunan proyeknya.
“Sejauh ini respons dari pemerintah sangat baik dan cepat. Diharapkan dalam beberapa pekan mendatang sudah ada keputusan mengenai kebijakan akselerasi proyek kilang NGRR ini,” katanya.
Untuk membangun satu kilang NGRR diperlukan dana 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp130 triliun. Salah satu kilang new grass root yang akan dibangun berada di Bontang, di lahan seluas 600 hektare milik PT Badan NGL, anak usaha Pertamina.
Ia mengatakan jika tiga kilang baru tersebut telah beroperasi maka total BBM yang dapat diproduksi Pertamina mencapai 1,3 juta barel per hari. Saat ini, Pertamina baru bisa memproduksi sekitar 850 barel per hari (bph).
Artikel ini ditulis oleh:














