Ilustrasi - Emas batangan. ANTARA/HO-Bos Emas Indonesia

Jakarta, aktual.com– Harga emas global merosot ke level terendah dalam hampir sepekan pada perdagangan Kamis (12/2/2026), setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang kuat meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan memicu aksi jual besar-besaran di pasar logam mulia.

Logam mulia tersebut bahkan jatuh di bawah level psikologis US$5.000 per ons, memperdalam tekanan di tengah ekspektasi bahwa bank sentral Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot turun 3,2% menjadi US$4.915,74 per ons atau sekitar Rp76,18 juta pada pukul 16.02 waktu New York. Penurunan ini membuat emas menyentuh level terendah sejak 6 Februari pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga melemah 3,2% menjadi US$4.935,70 per ons.

Analis pasar di City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, mengatakan tekanan jual meningkat setelah banyak posisi stop loss investor terpicu ketika harga menembus level psikologis.

“Karena volatilitas yang tinggi sebelumnya, banyak orang menempatkan stop loss mereka di bawah US$5.000 atau di atas level US$5.100 untuk mempertahankan posisi mereka,” kata Fawad, seperti dikutip dari CNBC.

Ia menjelaskan, ketika harga turun di bawah US$5.000, gelombang stop loss otomatis memicu efek berantai yang mempercepat penurunan harga dalam waktu singkat.

Data ekonomi yang dirilis sebelumnya menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat memulai 2026 dengan kondisi lebih kuat dari perkiraan. Jumlah pekerjaan sektor nonpertanian tercatat bertambah 130.000 pada Januari, meskipun terdapat revisi penurunan 48.000 pada Desember. Tingkat pengangguran juga sedikit turun menjadi 4,3%.

Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 227.000 pada pekan yang berakhir 7 Februari, menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja.

Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang lebih luas untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna memastikan inflasi tetap terkendali. Kebijakan suku bunga tinggi umumnya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan berbunga.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat (13/2/2026), yang dinilai dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.

Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pasar memperkirakan inflasi utama akan melambat.

“Tampaknya ekspektasinya adalah bahwa CPI utama akan melambat dari 2,7% menjadi 2,5%, mungkin serendah 2,4%. Itu dapat menghidupkan kembali spekulasi penurunan suku bunga dan berpotensi menguntungkan emas,” ujarnya.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga platinum anjlok 10,8% menjadi US$74,95 per ons, setelah sebelumnya sempat menguat 4% pada Rabu (11/2/2026). Sementara itu, perak turun 6,2% menjadi US$2.030,25 per ons, dan paladium melemah 4,75% menjadi US$1.618,84 per ons.

Penurunan ini mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar logam mulia terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama di tengah ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano