Jakarta, aktual.com – Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul mencapai kesepakatan koalisi dengan rival utamanya, Jumat (13/2/2026), hanya beberapa hari setelah partai konservatifnya meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum.
Anutin menyatakan bahwa Pheu Thai Party, partai yang didukung keluarga mantan pemimpin Thaksin Shinawatra dan finis di posisi ketiga pada Pemilu Minggu lalu, sepakat bergabung dengan koalisi yang dipimpin partainya, Bhumjaithai Party.
Kesepakatan tersebut menjamin mayoritas suara di majelis rendah yang beranggotakan 500 kursi, sehingga memperkuat posisi Anutin dalam mengawal agenda legislatif pemerintahannya. Koalisi baru ini diperkirakan didukung hampir 300 anggota parlemen, terdiri dari 193 legislator Bhumjaithai dan 74 dari Pheu Thai.
“Kesepakatan ini akan membantu menghindari kekosongan politik. Kami yakin kedua partai mampu membawa Thailand maju,” ujar Anutin.
Kemenangan Bhumjaithai menandai sejarah baru sebagai partai konservatif pertama abad ini yang memenangkan pemilu di Thailand, mengalahkan partai progresif yang sebelumnya diunggulkan. Gelombang nasionalisme akibat konflik perbatasan dengan Kamboja serta dukungan terhadap pemerintahan petahana dinilai menjadi faktor pendorong kemenangan tersebut.
Pasar keuangan Thailand merespons positif perkembangan ini. Indeks saham dan mata uang baht menguat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, seiring optimisme bahwa kemenangan telak Anutin dapat mengakhiri gejolak politik yang berlangsung bertahun-tahun.
Sejak 2005, Thailand telah memiliki 10 perdana menteri. Pergantian kepemimpinan yang kerap terjadi dinilai melemahkan pertumbuhan ekonomi serta membuat pasar domestik tertinggal dibanding negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Meski pemerintahan baru kemungkinan belum dilantik dalam beberapa pekan ke depan sambil menunggu prosedur resmi rampung, finalisasi awal koalisi memberi ruang bagi Anutin untuk mulai menyusun prioritas kebijakan.
Ekonom Standard Chartered Pcl, Tim Leelahaphan, memperkirakan pemerintahan sementara dapat terbentuk pada Juni, mengingat proses pembentukan koalisi berpotensi berlangsung dinamis.
Sementara itu, dosen ilmu politik Universitas Chulalongkorn, Stithorn Thananithichot, menilai menggandeng Pheu Thai sembari tetap membuka opsi dengan partai konservatif Klatham merupakan langkah strategis dalam menjaga persepsi publik dan memperkuat pengaruh politik.
Bagi Pheu Thai, bergabung dalam pemerintahan dinilai sebagai peluang untuk memanfaatkan akses kekuasaan guna melakukan comeback pada pemilu berikutnya. Kehadiran Yodchanan Wongsawat, keponakan Thaksin, dalam kabinet baru juga disebut dapat meningkatkan kredibilitas partai tersebut.
Anutin pun memberi sinyal akan mempertahankan tim teknokrat inti, termasuk Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas dan Menteri Perdagangan Suphajee Suthumpun.
“Dalam jangka pendek, pemerintah baru kemungkinan akan mempertahankan kebijakan ekonomi yang relatif konservatif. Namun dalam jangka panjang, mereka harus membuktikan mampu membawa Thailand ke arah ekonomi yang lebih berorientasi masa depan,” ujar Stithorn.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















