Jakarta, aktual.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan mekanisme pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di wilayah mayoritas non-Muslim. Kebijakan tersebut, kata dia, tetap disesuaikan dengan kondisi keberagaman masyarakat di setiap daerah.
Dadan menyampaikan, pola distribusi makanan akan mengikuti mekanisme yang diterapkan di daerah mayoritas Muslim selama bulan puasa. Dengan skema itu, siswa yang menjalankan ibadah puasa tetap dapat menerima manfaat program tanpa terganggu aktivitas ibadahnya.
“Kalau di satu sekolah ada yang puasa dan ada yang tidak puasa, makanannya seperti di daerah puasa, yaitu dibawa pulang,” ujar Dadan usai menghadiri acara Ekonomi Outlook 2026, Jumat (13/2).
Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan program dan penghormatan terhadap praktik keagamaan peserta didik. Dengan sistem makanan dibawa pulang, siswa yang berpuasa dapat mengonsumsinya saat waktu berbuka.
Selain mempertimbangkan aspek keagamaan, BGN juga memastikan standar gizi dalam program MBG tetap terpenuhi. Koordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah daerah terus dilakukan agar distribusi makanan berjalan lancar serta tepat sasaran.
Dadan menegaskan, pendekatan fleksibel ini penting untuk menjaga tujuan utama program MBG, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik sekaligus menghormati keberagaman sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
Ia berharap pelaksanaan MBG selama Ramadan dapat berlangsung kondusif di seluruh daerah, termasuk wilayah mayoritas non-Muslim, sehingga manfaat program tetap dirasakan secara merata oleh para siswa.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















