Ratusan ikhwah toriqoh ikuti gelaran peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalalahu alaihi wassalam, di Zawiyah Arraudhah, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (9/11). FOTO: AHMAD WARNOTO / AKTUAL

Jakarta, aktual.com – Dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju Allah bukan sekadar ritual lahiriah, melainkan transformasi batin yang ditandai oleh cahaya-cahaya spiritual. Imam Ibn ‘Athoillah dalam Hikam-nya menyebutkan,

اهتدى الراحلون إليه بأنوار التوجه والواصلون لهم أنوار المواجهة. فالأولون للأنوار وهؤلاء الأنوار لهم لأنهم لله لا لشيء دونه {قُلْ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ}

“Para pejalan (menuju Allah) sampai kepada-Nya dengan cahaya-cahaya pengarahan (tawajjuh), sedangkan orang-orang yang telah sampai memperoleh cahaya-cahaya perjumpaan (muwājahah). Maka yang pertama adalah untuk cahaya-cahaya itu, sedangkan yang kedua, cahaya-cahaya itulah untuk mereka. Karena mereka milik Allah, bukan milik sesuatu selain-Nya. (Katakanlah: ‘Allah,’ kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kesesatan mereka bermain-main) [Al-An‘ām: 91].”

Ungkapan ini membedakan dua maqam penting: para sālik (penempuh jalan) dan para wāṣil (orang yang telah sampai). Keduanya sama-sama berada di jalan Ilahi, namun kualitas pengalaman ruhani mereka berbeda.

Cahaya Tawajjuh: Tanda Masih di Jalan

Bagi para pejalan, Allah menampakkan cahaya-cahaya sebagai peneguhan bahwa mereka masih berada di jalan yang benar. Cahaya itu hadir melalui ibadah dan amal saleh: puasa, tilawah Al-Qur’an, zikir, menyantuni anak yatim, membantu sesama Muslim, mencintai Nabi dan bershalawat kepadanya, mencintai orang-orang saleh, hingga bangun malam dalam munajat.

Semua amal tersebut melahirkan ketenangan, kelezatan ibadah, dan kejernihan hati. Itulah yang disebut sebagai anwār al-tawajjuh—cahaya pengarahan. Cahaya ini bukan tujuan akhir, melainkan tanda dan penguat dalam perjalanan.

Dalam analogi Al-Qur’an, mereka seperti orang-orang fakir dan miskin yang berhak menerima sedekah. Allah “memberi” mereka cahaya sebagai dorongan dan peneguhan, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan miskin” (QS. At-Taubah: 60). Mereka fakir di hadapan Allah, membutuhkan bimbingan-Nya di setiap langkah.

Cahaya Muwajahah: Anugerah bagi yang Sampai

Berbeda dengan para pejalan, orang-orang yang telah sampai tidak lagi sekadar “mencari” cahaya. Mereka memperoleh anwār al-muwājahah—cahaya perjumpaan. Ini adalah maqam yang lebih tinggi dan lebih kuat dibanding cahaya tawajjuh.

Jika para sālik “untuk cahaya”—yakni mereka masih membutuhkan cahaya sebagai penuntun—maka para wāṣil justru “cahaya itu untuk mereka.” Cahaya menjadi bentuk pemuliaan dan realisasi kedekatan mereka dengan Allah.

Mereka telah sampai pada derajat keikhlasan total, sebagaimana isyarat ayat: “Katakanlah: ‘Allah,’ kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kesesatan mereka bermain-main” (QS. Al-An‘am: 91). Artinya, fokus mereka hanya Allah semata, bukan selain-Nya.

Dari Ibadah ke Kehadiran

Pesan utama hikmah ini adalah bahwa perjalanan spiritual memiliki tahapan. Pada tahap awal, seseorang masih merasakan naik-turun spiritual, semangat dan kelelahan, terang dan redup. Namun selama ia tetap menjaga ibadah, amal, dan zikir, cahaya itu akan terus menyertainya.

Sedangkan pada tahap puncak, orientasi berubah: bukan lagi mengejar rasa atau pengalaman, melainkan totalitas penghambaan. Di titik ini, cahaya bukan sekadar pengalaman batin, tetapi menjadi identitas ruhani.

Dengan demikian, setiap Muslim diajak untuk tidak berhenti pada sensasi spiritual, melainkan terus melangkah hingga ibadah tidak lagi bergantung pada “rasa terang”, tetapi pada kesadaran bahwa seluruh hidupnya hanya untuk Allah.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain