Ilustrasi - Siswa menunjukkan menu makanan saat uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Kepatihan Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/1/2025). ANTARAFOTO/Maulana Surya/nym/pri.
Ilustrasi - Siswa menunjukkan menu makanan saat uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Kepatihan Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/1/2025). ANTARAFOTO/Maulana Surya/nym/pri.

Jakarta, aktual.com – Badan Gizi Nasional (BGN) meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok 3B sebagai sasaran utama dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum menyasar sekolah atau peserta didik.

Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menegaskan, prioritas tersebut penting mengingat masih terdapat perbedaan pemahaman di lapangan terkait implementasi program MBG, khususnya pada tahap awal pembangunan dapur SPPG.

“Harus saya tekankan di sini karena ada perbedaan pemahaman. Pada saat SPPG baru dibangun, bahkan ada mitra yang aktif langsung membuat kerja sama dengan sekolah. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan ini, yaitu balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Ini yang diutamakan,” ujar Sony dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.

Menurut Sony, Program MBG memiliki keunggulan dibandingkan praktik di banyak negara lain. Ia menyebutkan, lebih dari 77 negara hanya menjalankan program makan gratis di sekolah (school meal), sementara Indonesia mengembangkan konsep yang lebih luas dengan menyasar kelompok rentan di luar peserta didik.

“Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia juga menghadirkan inovasi dengan mengantarkan makanan bergizi langsung ke rumah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita melalui dukungan kader posyandu. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yang menjadi fondasi utama kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Sony menegaskan, Program MBG tidak sekadar program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Selain itu, ia menilai program tersebut mulai mendorong perubahan pola pikir masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang. Anak-anak di berbagai daerah kini mulai memahami bahwa makanan sehat harus mengandung unsur lengkap, seperti karbohidrat, protein, serat, dan vitamin.

“Pola pikir masyarakat Indonesia berubah, yang tadinya tidak memperhatikan apa saja unsurnya, sekarang anak-anak sudah mulai melihat, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan, bahwa makan itu isinya empat unsur: karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” ujar Sony.

BGN berharap seluruh mitra dan pelaksana SPPG dapat menjalankan program sesuai prioritas yang telah ditetapkan, sehingga kelompok rentan dapat memperoleh manfaat maksimal dari Program MBG sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas kesehatan dan gizi nasional.