Jakarta, aktual.com – PWNU Jawa Timur melalui Lembaga Falakiyah (LF) melakukan rukyatulhilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah dengan pemantauan di 41 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur.

Ketua LF PWNU Jatim Syamsul Ma’arif menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama tetap menggunakan metode pengamatan langsung (rukyatulhilal) karena berpegang pada tradisi fikih klasik yang merujuk pada perintah eksplisit dalam ajaran agama.

Ia menyampaikan bahwa terdapat kemungkinan awal Ramadan tahun ini tidak bertepatan dengan penetapan Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026.

“Iya, ada potensi beda dalam awali puasa Ramadan 1447 H kali ini. Muhammadiyah telah menetapkan 18 Februari 2026 awal Ramadan, kami masih memantau hilal saat ini,” kata Syamsul dilansir detikJatim, Selasa (17/2/2026).

Syamsul menerangkan bahwa berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal saat ini masih berada di bawah ufuk. Hal tersebut terjadi karena ijtima’ atau konjungsi berlangsung setelah matahari terbenam, yakni pukul 19.02 WIB.

“Sehingga hilal berpotensi tidak bisa terlihat. Menurut Hisab tahqiqi bit tahqiq bahwa posisi hilal masih di bawah ufuk karena ijtima’ (konjungsi) terjadi bakda ghurub syams sehingga ketinggian hilal minus di seluruh Indonesia. Menurut kaidah ilmu falak, hilal tidak mungkin bisa dilihat. Dengan demikian, umur bulan Sya’ban digenapkan 30 hari (istikmal). Diprediksi 1 Ramadan 1447 jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026,” jelasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain