Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan pemaparan kepada media terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Selasa (21/8/2024). ANTAR FOTO/MUHAMMAD RAMDAN

Jakarta, Aktual.com — Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Februari 2026. Dengan keputusan tersebut, suku bunga acuan telah bertahan selama lima bulan sejak terakhir dipangkas pada September 2025.

Keputusan ini, menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, diambil karena ketidakpastian global masih tinggi sehingga ruang pelonggaran belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya.

“Ketidakpastian global masih tinggi, sehingga kami akan terus memantau apakah ada kesempatan ke depan untuk merealisasikan ruang penurunan suku bunga,” ujarnya dalam konferensi pers secara daring, Kamis (19/2/2026).

Meski demikian, arah kebijakan suku bunga ke depan tetap condong ke pelonggaran. Perry menegaskan, dengan inflasi yang terkendali dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi, ruang penurunan bunga sebenarnya masih terbuka, namun waktunya sangat bergantung pada stabilitas eksternal.

Bank sentral menilai tekanan global masih bersumber dari perlambatan ekonomi dunia, dampak kebijakan tarif Amerika Serikat, serta tingginya risiko fiskal AS yang membuat imbal hasil obligasi tenor panjang bertahan tinggi. Kondisi ini menyebabkan arus modal ke negara berkembang berlangsung selektif dan memicu volatilitas di pasar keuangan.

Lebih jauh, stabilitas nilai tukar menjadi pertimbangan penting dalam keputusan menahan suku bunga. Perry menyebut rupiah berada di sekitar Rp16.880 per dolar AS pada 18 Februari 2026 dan dinilai masih berada di bawah nilai fundamentalnya.

“BI menilai rupiah undervalued, karena itu kami terus meningkatkan intensitas stabilisasi baik di pasar offshore maupun domestik,” tegasnya.

Dari sisi domestik, inflasi dinilai tetap mendukung ruang kebijakan. Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% dengan inflasi inti 2,45%, masih dalam sasaran 2,5±1%, sehingga tekanan harga belum menjadi hambatan untuk pelonggaran lebih lanjut.

Namun, efektivitas transmisi kebijakan menjadi perhatian tersendiri. Meskipun BI Rate telah turun 125 basis poin sepanjang 2025, suku bunga kredit perbankan baru turun terbatas menjadi 8,80%, sementara bunga deposito juga bergerak lebih lambat akibat masih tingginya special rate bagi deposan besar.

Untuk itu, Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang telah tersalurkan Rp427,5 triliun. “Implementasi KLM sejak Desember 2025 diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit perbankan serta penetapan suku bunga kredit yang sejalan dengan arah kebijakan BI,” jelas Perry.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi