Jakarta, Aktual.com — Pemerintah Indonesia membuka akses tarif preferensial bagi produk tekstil dan garmen ke pasar Amerika Serikat (AS) melalui penandatanganan perjanjian dagang resiprokal kedua negara. Kebijakan tersebut dinilai menjadi peluang ekspor baru di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi sektor berbasis ekspor.
Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi, menilai fasilitas tarif nol persen berpotensi mendorong kinerja industri padat karya, khususnya tekstil dan apparel. Ia menyebut peluang itu dapat menjadi katalis bagi sektor manufaktur berorientasi ekspor yang selama ini tertekan dinamika global.
“Kalau misalnya kita dapat special rate 0% dari Amerika Serikat dan kita bisa memperluas ekspor kita ke sana, meningkatkan nilai ekspor kita ke sana, sebetulnya dari sudut pandang diversifikasi pasar ini cukup baik,” ujar Adjie dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025 secara virtual, Jumat (20/2/2026).
Menurut dia, efektivitas fasilitas tarif nol persen tetap bergantung pada skema tariff rate quota (TRQ) yang membatasi volume ekspor tertentu. Jika kuota yang diberikan terbatas, maka dorongan terhadap ekspor dinilai tidak akan maksimal meskipun tarif diturunkan menjadi 0 persen.
Ekonom tersebut juga mengingatkan pentingnya membandingkan struktur tarif Indonesia dengan Vietnam dan Bangladesh sebagai pesaing utama. Tanpa keunggulan relatif dalam tarif, peluang yang terbuka berisiko tergerus persaingan harga di pasar Amerika Serikat.
Di sisi lain, ia melihat sektor domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal IV, sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian tercatat tumbuh di atas rata-rata nasional seiring membaiknya konsumsi rumah tangga.
Namun, industri berbasis ekspor masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan kebijakan tarif yang belum sepenuhnya stabil.
“Sejak reciprocal tariff, kecenderungannya memang foreign investment menjadi wait and see,” katanya, menggambarkan kehati-hatian investor asing.
Dalam jangka panjang, Adjie memandang perjanjian ini dapat menjadi momentum diversifikasi pasar ekspor Indonesia. Ketergantungan ekspor ke China yang kini melampaui 20 persen dinilai perlu diimbangi dengan penguatan akses ke pasar Amerika Serikat yang porsinya relatif stagnan di kisaran 9–10 persen.
Dalam waktu yang sama, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati penurunan tarif barang asal Indonesia menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen setelah negosiasi sejak April 2025. Sekitar 1.819 pos tarif memperoleh fasilitas, termasuk tekstil dan apparel melalui skema TRQ. Di sisi lain, Indonesia menghapus lebih dari 99 persen hambatan tarif produk AS.
Penandatanganan dilakukan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer di Washington DC. Perjanjian akan berlaku 90 hari setelah proses hukum kedua negara selesai.
“Filosofi dari kesepakatan ini adalah harus sama-sama menang, menguntungkan bagi rakyat Indonesia maupun rakyat AS,” ujar Airlangga dalam jumpa pers yang disiarkan langsung Sekretariat Presiden.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















