Jakarta, Aktual.com – Pemenuhan gizi anak di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra masih menjadi perhatian meski empat bulan telah berlalu sejak bencana terjadi. Di sejumlah lokasi terdampak, bantuan yang datang kepada masyarakat dinilai belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan khusus anak-anak, terutama balita yang memerlukan asupan nutrisi berbeda dengan orang dewasa.

Temuan tersebut disampaikan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) saat menyalurkan bantuan ke Desa Serba dan Desa Pematang Durian, Kabupaten Aceh Tamiang, pada awal Februari lalu. Dalam kegiatan tersebut, organisasi itu melihat bantuan yang beredar di masyarakat sebagian besar berupa makanan praktis seperti mi instan dan susu kental manis yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi balita.

Sekretaris Jenderal YAICI Satria Yudhistira, mengatakan situasi tersebut menunjukkan kebutuhan anak belum menjadi fokus utama dalam penyaluran bantuan pascabencana. Ia menilai bantuan yang diberikan selama ini masih didominasi kebutuhan umum yang lebih cocok untuk orang dewasa.

“Bantuan yang ada saat ini kebanyakan ditujukan untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak,” kata Satria, Jumat (6/3/2026).

Menurut Satria, kondisi ini menjadi catatan penting bagi proses pemulihan pascabencana. Ia menilai fase pemulihan seharusnya mulai diarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik, termasuk memastikan anak-anak memperoleh pangan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.

Ia berharap ke depan pihak-pihak yang menyalurkan bantuan, baik pemerintah, relawan, maupun masyarakat, dapat memperhatikan kebutuhan gizi anak secara lebih serius agar bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi kelompok rentan.

“Harapannya ke depan bantuan dari siapa pun, baik pemerintah maupun masyarakat, mulai memperhatikan kebutuhan anak,” ujar Satria.

Selain menyalurkan bantuan, YAICI juga mengadakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak di lokasi terdampak. Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai permainan yang dirancang untuk membantu anak-anak mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami bencana.

Menurut Satria, perhatian terhadap kondisi psikologis anak tidak kalah penting dibandingkan kebutuhan fisik mereka, terutama bagi anak-anak yang mengalami pengalaman traumatis akibat bencana.

“Kami juga membuat kegiatan trauma healing untuk anak-anak karena ini penting. Kondisi psikologis mereka juga perlu diperhatikan,” tuturnya.

Sementara itu, Penyuluh Kesehatan Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, Ersyad, menjelaskan bahwa pola bantuan yang didominasi makanan instan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi dalam waktu lama. Kondisi ini terutama berisiko bagi anak-anak dan balita yang membutuhkan nutrisi lebih lengkap untuk mendukung proses tumbuh kembang.

Ia menegaskan konsumsi susu kental manis secara terus-menerus dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan anak. Menurutnya, kental manis dapat memberikan rasa kenyang semu sehingga anak cenderung mengurangi konsumsi makanan utama yang sebenarnya lebih dibutuhkan tubuh.

“Jangka pendeknya bisa mengarah ke stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang palsu. Anak-anak nantinya lebih memilih kental manis ketimbang makan,” kata Ersyad.

Ersyad juga mengungkapkan selain bantuan pangan, fasilitas kesehatan di wilayah terdampak masih membutuhkan dukungan. Sejumlah peralatan medis rusak akibat banjir sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat belum berjalan maksimal.

Ia menyebutkan setelah banjir surut, berbagai penyakit mulai muncul di masyarakat, antara lain diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi tersebut dipicu oleh debu yang berasal dari lumpur banjir yang telah mengering di sejumlah wilayah.

“Kami membutuhkan obat-obatan dan alat medis. Banyak alat kesehatan rusak akibat banjir sehingga pelayanan kepada masyarakat belum maksimal,” ujar Ersyad.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi